Antara 50 Hz dan 60 Hz

Antara 50 Hz dan 60 Hz

Arwindra Rizqiawan

Frekuensi, selain tegangan dan arus, adalah besaran yang akan dikonfirmasi oleh setiap orang yang akan memakai suatu peralatan listrik. Jawabannya pun hanya antara 50 Hz dan 60 Hz, asal frekuensi peralatan tersebut sudah cocok dengan jaringan listrik yang ada maka alat tersebut akan baik-baik saja. Selama ini kita tahu dan menerima saja bahwa ada dua jenis frekuensi yang dipakai di sistem tenaga, namun, mengapa 50 Hz dan 60 Hz? Tulisan ini akan mengulas singkat tentang frekuensi-frekuensi tersebut pada sistem tenaga listrik kita.

Frekuensi

Frekuensi secara umum dapat diartikan sebagai jumlah kemunculan suatu kejadian yang berulang pada suatu jangka waktu tertentu. Frekuensi didefinisikan sebagai jumlah periode gelombang yang terjadi selama 1 detik. Mengacu pada SI, satuan frekuensi adalah Hertz yaitu jumlah siklus per detik. Nama ini diberikan sebagai penghargaan kepada Heinrich R. Hertz atas kontribusinya pada bidang gelombang elektromagnetik.

Pada sistem tenaga listrik, istilah frekuensi diasoasikan dengan frekuensi tegangan dan arus listrik. Frekuensi ini diperoleh dari kombinasi jumlah putaran dan jumlah kutub listrik pada generator di pembangkit listrik. Pada awal sejarah munculnya listrik, pemahaman terhadap frekuensi tidak seperti yang sekarang ini kita semua pahami. Pada masa itu frekuensi lebih dipahami sebagai banyaknya jumlah perubahan polaritas (alternasi) per menit, akibatnya pada masa tersebut banyak kita temui frekuensi sistem tenaga yang apabila kita ubah ke definisi frekuensi modern akan menghasilkan angka yang tidak lazim, seperti 83 Hz atau 133 Hz.

Perkembangan Frekuensi pada Sistem Tenaga Listrik

Kita kembali ke sekitar tahun 1890an dimana listrik masih baru mulai berkembang. Pada masa itu listrik masih bersifat lokal, tidak ada transmisi jarak jauh, tidak ada interkoneksi, dan beban utama adalah penerangan. Akibatnya adalah muncul bermacam-macam frekuensi listrik yang beroperasi tergantung pada perusahaan penyedia generator pada pusat pembangkit lokal.

Di Amerika Utara, Westinghouse memilih mengoperasikan generator buatannya pada 133 Hz, sementara Thompson-Houston (sebelum nanti namanya berubah menjadi General Electric) menggunakan generator yang beroperasi menghasilkan 125 Hz. Di Britania Raya, frekuensi sistem bervariasi mulai dari 83 Hz hingga 133 Hz. Frekuensi yang beroperasi di eropa daratan juga bervariasi mulai dari 30 Hz hingga 70 Hz. AEG dari Jerman menggunakan frekuensi 40 Hz untuk mentransmisikan listrik sejauh 175 km ke Frankfurt, MFO dari Swiss menggunakan frekuensi 50 Hz untuk mentransmisikan listrik ke pabriknya, sementara Ganz dari Hungaria menggunakan 42 Hz untuk melayani konsumen beban penerangannya.

Begitu banyaknya frekuensi yang muncul menawarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing, disamping juga mengakibatkan kebingungan tersendiri. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk mendapatkan frekuensi yang paling tepat, sesuai dengan teknologi dan karakteristik sistem tenaga listrik jaman tersebut, diantaranya:

1. Frekuensi yang tinggi dengan pertimbangan transformator

Semakin tinggi frekuensi operasi maka ukuran transformator akan semakin kecil. Keuntungan menggunakan frekuensi yang lebih tinggi adalah biaya produksi transformator akan bisa menjadi lebih murah.

2. Frekuensi yang rendah dengan pertimbangan turbin-generator

Generator-generator pada masa tersebut umumnya diputar dengan menggunakan sabuk yang terhubung ke turbin, seperti pada generator Westinghouse yang menghasilkan frekuensi 133 Hz. Perkembangan selanjutnya adalah menghubungkan langsung turbin dengan generator pada 1 sumbu, namun dengan teknologi pada masa itu hanya bisa apabila putaran generator-turbin cukup rendah, artinya frekuensi listrik yang dihasilkan juga rendah.

3. Frekuensi dengan pertimbangan lampu penerangan

Beban utama yang dilayani sistem tenaga listrik pada saat itu adalah beban penerangan. Beban penerangan menuntut frekuensi sistem yang tidak rendah, karena akan mengakibatkan lampu yang berkedip-kedip. Frekuensi sistem harus tinggi supaya kedip pada lampu tidak lagi terasa oleh mata manusia.

4. Perkembangan teknologi motor listrik

Motor induksi mulai berkembang pada masa tersebut. Belum adanya teknologi pengaturan kecepatan motor mengkibatkan motor akan berputar proporsional dengan frekuensi sistem tenaga listrik yang ada. Produsen motor listrik pada umumnya adalah perusahaan yang juga membuat generator sehingga cenderung untuk memproduksi motor listrik yang sesuai dengan spesifikasi frekuensi generator yang diproduksinya sendiri, misalnya MFO dari Swiss dengan sistem 50 Hz. Apabila kita ingin menggunakan motor listrik tersebut, tentu saja kita harus menyediakan sistem tenaga yang sesuai dengan spesifikasi frekuensi motor tersebut.

Kompromi menjadi jalan tengah untuk mendapatkan frekuensi terbaik dari sekian banyak persyaratan yang saling berlawanan tersebut. Angka kompromi yang muncul pada masa itu adalah frekuensi pada kisaran 50 – 60 Hz. Angka tersebut cukup rendah untuk teknologi pembangkitan, cukup tinggi untuk mendapatkan transformator yang sesuai, dan cukup tinggi supaya kedip pada lampu penerangan tidak terasa.

Tidak cukup jelas alasan mengapa pada akhirnya sistem tenaga listrik Eropa berkembang dengan menggunakan 50 Hz, sedangkan sistem tenaga listrik di Amerika Utara berkembang dengan menggunakan 60 Hz. Kembali pada faktor produsen generator pada masa tersebut, selain itu sudah dimulainya interkoneksi antar daerah yang bertetangga. Apabila suatu daerah ingin digabungkan melalui interkoneksi, frekuensi yang dipilih harus sama dengan frekuensi yang sudah ada sebelumnya yaitu 50 Hz atau 60 Hz.

50 Hz dan 60 Hz

Peta pemakaian jenis frekuensi di dunia (www.cites.illinois.edu)

Perdebatan lebih bagus mana 50 Hz atau 60 Hz akan selalu ada, dan tidak akan pernah selesai. Para pengguna 60 Hz akan mengatakan bahwa sistem 50 Hz tidak seefisien 60 Hz pada penyaluran daya, transformator 50 Hz membutuhkan belitan yang lebih besar, generator 50 Hz berputar lebih lambat sehingga tidak seefektif generator 60 Hz. Di sisi lain, para pengguna 50 Hz akan mengatakan bahwa rugi-rugi pada transformator 60 Hz akan lebih besar karena ada rugi-rugi yang tergantung frekuensi operasi, frekuensi yang lebih tinggi akan membatasi ukuran konduktor pada transmisi tegangan tinggi. Padahal, apabila kita lihat kembali sekian banyak frekuensi yang pernah muncul pada awal-awal perkembangan listrik, baik 50 Hz atau 60 Hz relatif sama saja dibandingkan dengan frekuensi rendah 25 Hz ataupun frekuensi tinggi 133 Hz yang pernah muncul dan beroperasi.

Akibat interkoneksi yang semakin meluas serta faktor industrialisasi dan kolonialisasi juga, sekarang ini frekuensi 50 Hz digunakan oleh kebanyakan negara di dunia, sementara 60 Hz populer di negara-negara Amerika Utara. Jepang adalah kasus khusus karena menjadi negara yang memiliki dua sistem frekuensi 50 Hz dan 60 Hz sekaligus.

Jepang: Negara Dua Frekuensi

Jepang adalah salah satu negara yang unik di dunia dari sudut pandang frekuensi sistem tenaga yang digunakan. Jepang memiliki dua frekuensi operasi, 50 Hz dan 60 Hz, pada satu sistem interkoneksi secara sekaligus. Kejadian ini boleh dibilang merupakan “kecelakaan”, pada awal keberadaan listrik di Jepang sekitar tahun 1890an. Perkembangan listrik di Jepang timur dimulai dari Tokyo yang mengimpor generator set dari AEG Jerman dengan frekuensi 50 Hz, kota-kota lain di Jepang timur pun mengacu Tokyo dengan menggunakan frekuensi 50 Hz. Sementara itu, untuk wilayah Jepang bagian barat, dimulai dari Osaka yang mengimpor generator dari GE Amerika Serikat yang menggunakan frekuensi 60 Hz. Perkembangan selanjutnya kota-kota di Jepang bagian barat mengacu pada Osaka dengan menggunakan frekuensi 60 Hz.

Peta pembagian frekuensi di Jepang (www.tepco.co.jp)

Untuk menggabungkan dua frekuensi yang berbeda, Jepang harus menggunakan sistem HVDC back to back sehingga daya tetap bisa saling mengalir ke dua sistem frekuensi yang berbeda. Terdapat tiga gardu induk HVDC back to back untuk menghubungkan kedua frekuensi tersebut, yaitu di Higashi-Shimizu, Shin-Shinano, dan Sakuma. Total kapasitas ketiga gardu penghubung tersebut adalah 1GW.

Pada kondisi normal, operasi interkoneksi dengan dua frekuensi yang berbeda tidak menjadi masalah, apalagi dengan didukung oleh saluran penghubung yang berkapasitas hingga 1 GW. Tetapi, Jepang mengalami masalah akibat perbedaan frekuensi ini setelah gempa dan tsunami besar di daerah Tohoku pada Maret 2011. Setelah gempa dan tsunami, total daya listrik yang hilang di Jepang bagian timur mencapai 9.7 GW. Sementara saluran penghubung hanya mampu total 1 GW, akibatnya daya yang dihasilkan oleh pembangkit di Jepang bagian barat tidak bisa disalurkan untuk memenuhi defisit energi di daerah Jepang timur. Praktis pada kondisi darurat seperti ini, sistem interkoneksi Jepang seolah-olah terpisah menjadi dua bagian, 50 Hz dan 60 Hz.

Frekuensi di masa mendatang?

Perkembangan elektronika daya sudah sangat maju sekarang ini, sehingga sampai pada kapasitas daya tertentu, frekuensi bukan menjadi masalah lagi karena kita bisa mengubah sesuai dengan nilai yang kita inginkan. Pada aplikasi-aplikasi khusus, frekuensi yang digunakan bukan lagi frekuensi tradisional 50 Hz/60 Hz tetapi 400 Hz. Frekuensi ini kita temui pada sistem kelistrikan pesawat terbang, kapal laut, kapal selam, dsb.

Namun untuk aplikasi sistem tenaga skala besar, penulis rasa masih akan tetap menggunakan frekuensi tradisional 50 Hz atau 60 Hz. Pertama karena kemampuan daya dari peralatan elektronika daya belum bisa untuk aplikasi yang masif, kedua karena infrastruktur kelistrikan yang sudah terbentuk saat ini, akan membutuhkan modal yang sangat besar untuk mengubah dalam waktu singkat.

***

Bacaan lebih lanjut:

About these ads

About angin165

Pria, Indonesia, muda, lajang, belum mapan.
This entry was posted in Power Generation. Bookmark the permalink.

62 Responses to Antara 50 Hz dan 60 Hz

  1. Pingback: Bicara frekuensi « arwindra rizqiawan

  2. Abu Syadza says:

    Dear Mas Arwindra,

    Kalau tidak salah ada juga yang menggunakan frekuensi 16 2/3 (enam belas dua per tiga) Hz yah?
    Mungkin bisa dijelaskan sedikit tentang hal tsb untuk melengkapi artikel di atas.
    Terima kasih.

    • angin165 says:

      Pak Abu Syadza,
      Betul Pak, memang benar ada frekuensi 16.66 Hz namun frekuensi tersebut dipakai pada sistem kelistrikan kereta, tidak umum ditemukan pada sistem tenaga biasa. Mungkin sistem kelistrikan kereta bisa jadi pembahasan tersendiri nanti :)

  3. Abu Syadza says:

    OK tksh mas Arwindra.
    Ditunggu artikelnya.
    Saya senang baca blog ini.

    Tp sepertinya tulisan2 yang ada hanya dari mahasiswa2 S1 yah?
    Apa mahasiswa2 S2 dan S3 tidak ada yang aktif/tertarik menulis di blog ini?

  4. dahono says:

    Pada jaman dahulu, satu-satunya motor yang mudah dikendalikan kecepatannya adalah motor dc seri. Motor dc seri juga bisa digunakan sebagai motor ac seri. Walaupun bisa digunakan sebagai motor ac, kinerjanya akan tetap lebih optimum kalau disuplai dengan sumber dc. Sayangnya kalau sistem catenary (listrik aliran atas pada kereta) menggunakan sistem dc, tegangannya tidak bisa tinggi. Oleh sebab itu diambil kompromi, tegangan masih bisa tinggi tetapi dengan frekuensi rendah mendekati dc. Jadi diambillah frekuensi 16 2/3 Hz (50 Hz dibagi tiga).
    Tetapi ini cerita lama, saat power electronics belum berkembang. Kalaupun Jerman masih memakai frekuensi ini, ini karena merubah infrastructure yang ada bukan pekerjaan mudah dan murah.

  5. gilang says:

    slamat siang pak,,sya mau tanya nih..bos saya punya barang2 elektronik dari korea,,dimana power yang tertera di name plate 220v 60hz sedangkan diindonesia 220v 50hz,gamna pak?

  6. dahono says:

    kalau peralatan elektronik sih no problem et al

  7. beke000 says:

    makasi atas info nya

  8. fuad says:

    untuk frekuensi diatas 50/60 Hz seperti 400 Hz atau 500 Hz,,,apakah bisa di transmisikan dalam jarak yang panjang???

    terima kasih

  9. dahono says:

    Jika frekuensinya tinggi, reaktansi saluran juga tinggi, sehingga drop tegangan pada saluran yang panjang akan sangat besar. Jadi tidak cocok untuk transmisi jarak jauh.

    • fuad says:

      sangat bermanfaat infonya…terimakasih…

      mau nanya lagi ni pak…..berarti untuk frekuensi tinggi itu terbatas dalam satu area kecil atau satu gedung saja ya??
      dan untuk perhitungan batas maksimal penyalurannya itu gmana ya??

  10. dahono says:

    hitung aja reaktansi kabelnya, kemudian hitung drop tegangannya

  11. fuad says:

    maaf pak banyak bertanya….hehehe
    selain dengan inverter pembangkitan frekuensi tinggi bisa dilakukan dengan cara apa ya??
    hal2 apa saja yang perlu diperhatikan dalam pembangkitan frekwensi tinggi??

    terima kasih atas ilmunya…

  12. dahono says:

    pake Motor-Generator set.
    main consideration ya harus efficient dan reliable

  13. dahono says:

    ya sama aja tembaga, tetapi pilih konstruksinya menyebabkan resistansi dan induktansinya kecil

  14. fuad says:

    terima kasih……

  15. fuad says:

    oh ya pak ada referensi tentang penggunaan frekwensi 500 Hz.??
    soalnya saya lagi menyelesaikan tugas akhir dengn judul yg berhubungn dengan frekwensi 500 Hz…

    terima kasih..

  16. Hananan says:

    izin share ya kakak

  17. Pingback: Antara 50 Hz dan 60 Hz » ARUNALS

  18. andy susanto says:

    Selamat sore pak, mau tanya kalau electrik motor 2 HP, 1450 rpm, 50 Hz, mau dirubah menjadi 60 Hz, supaya rpm nya jadi lebih tinggi apakah bisa? terima kasih.

  19. dahono2008 says:

    otomatis kalau frekuensi naik ya rpm naik. Cuma kalau bebannya pompa atau fan maka motornya bisa overload

  20. Liza Inkai says:

    istilah dai frekuensi rendah apayah disebutnya??? please kasih tau nih penting banget

    • lusi says:

      Pak saya mau bertanya,,, kalau Frekuensi listriknya 60 Hz dan mau di pasangkam AC 50 Hz itu bagaimana?/ terima kasih atas jawabannya.

  21. dahono says:

    tegangannya diturunkan menjadi (5/6) nya

    • arief says:

      Artinya.. AC yg berfrekwensi 50 HZ, jika kita pasangkan pada listrik yg berfrekwensi 60HZ tdk akan terjadi kerusakan pada AC nya??

      • arief says:

        Saya punya Air Curtain, di mesinnya tertulis frekwensinya 50/60 HZ, artinya bisa beroperasi di 2 frekwensi tesebut?

  22. dahono says:

    yes, you can use both frequencies

  23. Candline says:

    iya tapi ada sebagian AC yang diname plate nya cuma tertulis 50 HZ aja..kalo emg bisa dipasang apakah ya yang akan terjadi pada ac tersebut..overloadkah?atau bisa dipake tapi dalam jangka waktu yang tidak lama,.mohon pencerahannya

  24. Dahono says:

    AC generasi sekarang, umumnya sudah dikendalikan lewat inverter. Karena lewat penyearah, AC tersebut tidak akan peduli dengan frekuensinya. Yang penting tegangannya tidak melebihi batas yang diijinkan. Tetapi secara umum, jika V/Hz dijaga tetap maka peralatan tersebut bisa bekerja tanpa masalah.

  25. alex says:

    Pak, saya bukan anak itb dan ngak pernah kuliah, mau tanya mengenai motor listrik dan generator listrik altenator. Bisa minta alamat emailnya, ngak. Terima kasih

  26. suwantono says:

    apakah bisa alat listrik 50 hetz memakai genset 60 hetz

  27. sofyan says:

    Saya punya penggilingan Padi memakai 4 mesin penggerak 24 HP , saya mau ganti dengan Dinamo supaya suara didalam pabri tdk bising, berapa HP pak Dinamo yg harus saya pakai unk menyamai mesin yg 24 HP tadi

  28. dahono says:

    Pake aja motor 24 HP, pasti bisa. Tapi perhitungkan RPM-nya

  29. fiqi says:

    permisi pak mau bertanya,,apa yang akan ditimbulkan jika frekuensi pln naik/turun melebihi toleransi terhadap peralatan elektronik??

  30. dahono says:

    terhadap peralatan elektronik hampir nggak ada efeknya karena semua daya disearahkan dulu sebelum dipakai

  31. NasrunNasution says:

    terima kasih atas ulasannya pak.

  32. NasrunNasution says:

    terima kasih atas ulasannya pak.
    saluran transmisi sering digunakan sebagai sarana untuk komunikasi data dan telepon yg menggunakan frekwensi tinggi. apa efeknya bagi sistim jika frekwensi komunikasi masuk ke saluran daya pak ?
    mohon penjelasan nya.
    terima kasih

  33. dahono says:

    Ya mengganggu sistem komunikasi, tetapi tidak mengganggu stabilitas atau kemampuan saluran menyalurkan daya

  34. iqlas says:

    mau tanya tiba terjadi frekuensi renda atau drop penyebabnya apa?

    • timbulsasongko says:

      Pak, saya punya water boiler / dispenser air panas 240V 60 hz, apakah aman dipakai di listrik 220b 50 hz?trimakasih

  35. aditya says:

    kalo alat dengan spesifikasi
    120 volt, 1/2 HP, 60 Hz, 1 phase
    converter apa yang di perlukan untuk alat tersebut dapat berjalan dengan menggunakan listrik PLN.?

    stabilizer dengan output 110v, step down, atau inverter…atau alat yang lainnya..?
    terimakasih atas jawabannya.

  36. Dahono says:

    Kalau speed ga penting, tegangan diturunkan jadi 100 volt saat beroperasi dengan frekuensi PLN 50 Hz. Jadi beli aja ototrafo dengan output 100 Volt.

  37. maaf pak mohon penjelasannya:
    frekuensi listrik kabarnya juga dapat berubah-ubah nilainya. misalkan frek 50Hz pada suau kondisi bisa jd lebih tinggi (misal 50,5Hz) ataupun jadi rendah (misal 49 Hz).
    Apa benar frekuensi listrik berubah-ubah? dan kalau benar apa saja penyebabnya?

  38. ferry says:

    maaf permisi, kalo mw membuktikan sebuah trafo mengahasilkan frekuensi 60Hz itu pake alat ukur apa ya pak?

  39. dahono says:

    Osiloskop atau frekuensi meter

  40. dahono says:

    Umumnya, frekuensi generator dirancang sedikit menurun dengan naiknya beban. Jadi di dini hari saat penggunaan listrik sangat rendah, frekuensi cenderung tinggi. Saat pemakaiannya banyak, frekuensi cenderung turun.

  41. Surianto says:

    mau tanya pak, apakah ada alat atau komponen yg harus di rakit untuk pengaturan RPM motor agar bisa diadjus cepat dan lambatnya selain inferter, tentunya dengan biaya yang relatif murah. dan sebenarnya apa yang harus di lakukan agar RPM bisa di adjus, apakah Voltage atau HZ yang akan di adjus?

  42. dahono says:

    Kalau pengin range pengaturan yang luas, satu-satunya cara ya pake inverter. Tetapi cara lain yang lebih murah adalah dengan menggunakan regulator tegangan, tetapi range pengaturan kecepatannya tidak luas, hanya sekitar 20%. Kalau motornya satu-fasa ya cukup pake regulator triac yang biasa dipake buat dimmer lampu.

  43. Permisi pak, mau nanya. Untuk perbedaan frekuensi di tegangan AC dan DC itu gmn pak ya? Ada yg bilang klo frekuensi di DC bernilai 0 dan ada yg bilang tetap punya nilai misal 50 hz. Tapi setahu saya nilai frekuensi DC = 0. Yg bner yg mana pak ya? terus gmn caranya kita menghitung bnyaknya gelombang untuk frekuensi DC? Mhon pencerahannya :)
    Makasih sebelumnya pak

  44. dahono says:

    DC itu frekuensinya nol, artinya nggak pernah berubah. Periodenya tak berhingga

  45. tegar ardianto says:

    pak saya mau tanya, saya punya lampu uv dgn 120 volt 60hz, supaya bisa saya dgn frekruensi yg ada d indonesia 50hz, dan saya harus pake dgn aman dan awet saya hrus memggunakan alat apa?

  46. yanuwar says:

    Assallamualaikum,

    Saya mau nanyak ni pak, saya membuat genset dari Vespa dng menggunakan trafo bekas tape recorder ukuran 5A. Trafo CT tegangan input. 0 V, 220 V dan 110 V. Utk tehangan output 0V dan 12 V dng frekwensi 50 Hz – 60 Hz . Waktu saya pakai utk Genset Vespa saya balik menjadi trafo step up dimana inputnya 0V dan12 V outputnya 0V dan 220 V, tetapi setelah saya nyalain mesin dng trottle sedang (perkiraan RPM sedang) lalu saya ukur pake multimeter outputnya 300 Volt.
    Pertanyaan saya berapa Hz frekwensi nya, Sekian terimakasih atas tanggapan Bapak.

  47. yanuwar says:

    Assallamualaikum,

    Saya mau nanyak ni pak, saya membuat genset dari Vespa dng menggunakan trafo bekas tape recorder ukuran 5A. Trafo CT tegangan input. 0 V, 220 V dan 110 V. Utk tehangan output 0V dan 12 V dng frekwensi 50 Hz – 60 Hz . Waktu saya pakai utk Genset Vespa saya balik menjadi trafo step up dimana inputnya 0V dan12 V outputnya 0V dan 220 V, tetapi setelah saya nyalain mesin dng trottle sedang (perkiraan RPM sedang) lalu saya ukur pake multimeter outputnya 300 Volt.
    Pertanyaan saya berapa Hz frekwensi nya. Sekian Terimakasih atas tanggapan Bapak.

  48. dahono says:

    Kalau frekuensi ya harus diukur. Tapi tegangan vespanya adalah (300/220)x12

  49. yanuwar says:

    Mohon maaf Pak agak mengganggu seikit ni saya yanuwar sebelumnya banyain di genset Vespa, dan karang nanya lagi maaf ya pak dan perttanyaan saya ini gimana kalau menggunakan perlatan elektronik yg dayanya kurang dari 100 watt dng frekuensi 50Hz/60Hz_220Volt dan biasanya digunakan supply arus dari PLN apa bisa digunakan di Genset Vespa tsb, sekian atas tanggapan Bapak saya mengucapkan banyak terimakasih.

  50. pendi says:

    Selamat siang pak, mohon penjelasan dari bpk. bagaimana caranya untuk menyetabilkan tegangan supaya 220v dan Hz nya 50hz. pada disel pmbangkit listrik? tertulis kapasitan pada dynamo 1500 rpm / 7500kva. dan pngeraknya menggunakan diesel 16hp/ run 2200rpm.
    Soalnya ketika rpm di-stabilkan untuk mendpat 220v ko hz nya cuma 42hz, dan ketika rpm dinaikan supaya mencapai 50hz ko voltnya menjdi 250v. begitu pak masalahnya.
    Dan apakah jika penggunaan Hz dibawah 50hz akan merusak alat-alat audio/sound system yang mempunyai rata2 50/60Hz? sekian dan terima kasih atas penjelasannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s