Review : Kendaraan Listrik

Pastinya, sudah banyak yang tahu bahwa di negara-negara maju sangat banyak sekali berkembang apa yang dinamakan dengan kendaraan listrik, yang bahasa kerennya disebut electric vehicle (EV). Banyak manfaat yang bisa didapat dari kendaraan listrik ini, antara lain adalah minimnya tingkat polusi yang dihasilkan oleh kendaraan (walaupun trade-nya menimbulkan polusi di tempat lain), mode kerja mesin yang tidak berisik dibandingkan dengan mesin konvensional, dll. Jadi, pantas saja apabila banyak peneliti yang terus mengembangkan teknologi kendaraan listrik ini. Akan tetapi, pada postingan kali ini saya ingin coba membahas satu poin yang cukup menarik, yaitu aliran daya pada kendaraan listrik.

Sesuai dengan namanya, sistem kendaraan listrik menggunakan bahan bakar utama (not a real fuel, absolutely) listrik. Sistem ini menggunakan penggerak kendaraan utama berupa motor listrik dan listrik ini didapatkan dari sumber berupa baterai dengan kapasitas yang cukup besar . Skemanya bisa dilihat dibawah :

Selain komponen motor listrik dan juga baterai, tentunya juga terdapat konverter daya yang berfungsi, salah satunya sebagai pengatur kecepatan (rpm) motor , yang juga ekivalen dengan pengatur kecepatan putaran ban mobil. Fungsi lain dari konverter daya, dapat berupa kontrol torka dan pengendali arah aliran daya.

Mekanisme aliran daya dimulai pada saat pedal gas ditekan, dimana listrik mulai mengalir dari baterai ke motor listrik, dan roda mulai berputar. Dengan kata lain saat anda menekan pedal gas, roda akan mengalami percepatan. Dari fakta tersebut dapat dimengerti bahwa pada saat mobil melakukan percepatan, aliran daya terjadi dari baterai menuju motor listrik, seperti gambar berikut :

Percepatan yang terjadi pada roda kendaraan listrik juga berimbas pada berkurangnya isi baterai, karena konsumsi daya yang terjadi pada motor listrik untuk menggerakan roda.

Sekarang, bagaimana kalau mobil ini melakukan perlambatan, pada saat pedal rem ditekan?

Perlu diketahui bahwa pada saat akan melakukan perlambatan, kendaraan masih menyisakan energi kinetik yang cukup besar, dan untuk mengurangi laju kendaraan tentunya sisa energi pada kendaraan ini harus dikurangi.

Kendaraan konvensional mengurangi energi ini dengan menggunakan rem cakram maupun tromol. Hasilnya, adalah panas berupa peningkatan suhu pada komponen rem. Bertolak belakang dengan kendaraan konvensional, menurut saya, energi sisa pada kendaraan listrik pada saat melakukan perlambatan dapat dikurangi dengan mengubahnya menjadi energi listrik lagi.

Pemikiran ini didasarkan oleh sifat mesin listrik yang dapat beroperasi dalam dual mode, yaitu dapat beroperasi sebagai motor maupun generator. Mudahnya, pada saat melakukan perlambatan, mesin yang asalnya beroperasi sebagai motor yang mengkonsumsi listrik berubah menjadi generator yang menghasilkan listrik. Hal ini tentunya dapat dimanfaatkan pada sistem kendaraan listrik untuk kembali mengisi baterai yang isinya sudah berkurang saat melakukan percepatan.

Pembalikan aliran daya terjadi pada mekanisme ini, dapat dilihat pada gambar berikut :

Kalau begitu mana yang lebih menguntungkan dari segi konsumsi daya? Kendaraan konvensional atau kendaraan elektrik?

Salam,

Haryo Agung Wibowo

About konversi

This blog is a blog made by the students of the Laboratory Of Electric Energy Conversion, ITB. This blog shall be the place for us to write our researches and projects. Feel free to read any of the contents of this.
This entry was posted in Announcement. Bookmark the permalink.

7 Responses to Review : Kendaraan Listrik

  1. Kus says:

    Dari segi ekonomi?

  2. ENK says:

    Untuk saat ini, kendalanya adalah jarak yang jauh, masih belum bisa menggantikan mobil ‘minyak’, makanya banyak kendaraan ev yang ditarik kembali dari pasaran…

    nah tantangan kita untuk bisa menjadikan ev sebagai kendaraan utama

  3. angin165 says:

    solusi sementara ini adalah konsep hybrid-car, untuk keperluan dalam kota memakai mesin listrik, sementara untuk keperluan luar kota (jarak jauh) memakai mesin bakar.
    kendala kendaraan elektrik menurut saya adalah masalah di penyimpan energinya, apakah baterai atau fuelcellatau apa saja yang lain. di benak saya adalah setelah saya memakai mobil seharian penuh, saya hanya butuh waktu yang sebentar saja untuk mengisi penuh baterai saya. sehingga jika kita keluar kota, akan muncul ‘pom listrik’ untuk mengisi ulang baterai dalam waktu sebentar saja..

  4. ENK says:

    Yap… dan dari beberapa artikel yang saya baca, gara gara tidak adanya standar ‘pom listrik’ makanya setiap produsen mobil ev bikin sendiri ‘plug cable’ nya dan walhasil tidak ada yang mau ngalah…. ada juga yang punya ide kalo digabung langsung dengan terminal rumahan dengan alasan lebih mudah dijangkau, tetapi permasalahannya adalah daya yang digunakan cukup besar saat charging dan dapat menyebabkan overload pada pelanggan daya rendah. dan untuk indonesia masih belum bagus listriknya….

  5. Haryo says:

    Oke, untuk masalah electric vehicle memang masih banyak kendala. Sekarang gmana kalau kita buat mekanisme back charging seperti yang ditulis pada artikel diatas, untuk mobil konvensional.

    Any idea?

  6. ENK says:

    sangat sesuai digunakan… : regenerative braking, jadi si aki nggak usah dicabut cabut lagi … sekali terpasang selamanya disimpan disitu (idealnya)

  7. sastrowijoyo says:

    hmmm. idealnya.

    tapi kan aki bisa soak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s