Tips Praktikum MME

Praktikum MME sudah berjalan satu minggu. Pengalaman menjadi asisten ini adalah yang pertama bagi saya. Bagi praktikan, mungkin ini juga pengalaman pertama melaksanakan praktikum di laboratorium sebesar konversi. Sebagaimana kita tahu, praktikum MME seringkali memakan waktu yang cukup lama. Sayang sekali kalau kita tidak berhasil mendapatkan banyak manfaat darinya. Oleh karana itu, saya terinspirasi untuk membuat tulisan tentang tips meningkatkan kualitas berpraktikum kita. =)

Lama tidaknya waktu melaksanakan praktikum memang tidak bisa dijadikan sebuah indikator bahwa praktikum tersebut memiliki kualitas yang baik atau buruk. Namun sayang sekali kalau ‘lama’ tersebut terjadi karena ketidaksiapan kita melaksanakan praktikum. Sehingga ada baiknya kita melakukan persiapan diri sebagai berikut:

  1. Sebisa mungkin mengerjakan Tugas Pendahuluan sendiri. Tugas pendahuluan yang dibuat sudah terstruktur dengan baik untuk membangun pemahaman kita tentang topik percobaan. Jawabannya pun cenderung mudah didapat di textbook. Pengalaman mengeksplorasi jawaban sendiri di buku adalah pengalaman membaca yang efektif dan tidak tergantikan dengan mendapatkan jawaban jadi dari orang lain. Kalaupun mentok, ajaklah teman, asisten atau dosen untuk berdiskusi.
  2. Membaca prosedur dan tujuan percobaan lagi dan lagi. Memahami keduanya memudahkan kita untuk lebih cepat ‘ngeh’ dengan jalannya percobaan serta lebih terarah.
  3. Menyiapkan log book. Tujuan menggunakan logbook adalah mendokumentasikan informasi yang relevan dengan percobaan. Ini terdengar sederhana, namun dalam kenyataannya, logbook yang terstruktur dengan baik dapat memudahkan kita selama dan sesudah percobaan. Target dalam tips nomor dua juga dapat tercapai melalui pendekatan ini.

Sedangkan selama praktikum:

  1. Safety first. Hal tersebut didapatkan dari pemahaman dasar teori yang baik, memperhatikan rating setiap peralatan (batasan arus, daya dll) dan mengurangi gerakan praktikan yang tidak perlu.
  2. Dokumentasi adalah 80% dari pekerjaan seorang engineer. Sebisa mungkin jangan pernah menghapus data dari logbook kita. Beberapa data mungkin salah, namun berikan sedikit coretan saja pada data tersebut sehingga masih tetap dapat dibaca. Data ‘yang salah’ mungkin dapat berguna untuk menyelesaikan permasalahan pengukuran atau bahkan bisa saja kembali menjadi data yang benar setelah dianalisis. Catat fenomena-fenomena yang terjadi untuk dijadikan bahan analisis dalam laporan.
  3. Dapatkan data yang jelas dan akurat. Jangan lupa mencantukan parameter-parameter yang tetap dalam mengambil sebuah data. Biasanya dalam percobaan kita mengamati pengaruh suatu parameter terhadap parameter lain. Dalam persamaan yang kompleks, pastikan parameter selain yang diamati dijaga tetap. Cara membaca alat ukur pun harus benar. Dalam alat ukur analog, pastikan kita tidak melihat jarum penunjuk dan bayangannya pada cermin sebagai dua bayangan yang berbeda.
  4. Bekerjalah sebagai tim. Berbagi pekerjaan menjadi sangat penting dalam percobaan. Satu-dua kali percobaan akan terlihat keahlian dari masing-masing anggota kelompok. Ada yang ahli mencatat, menggunakan alat yang hypersensitive, memimpin kelompok, membaca dari alat ukur dan lain-lain. Kalau sudah dapat terbaca, tinggal belajar bagaimana percaya kepada teman.
  5. Bandingkan terus data yang didapat dengan idealnya. Semakin sering kita melakukannya, sense engineer kita sedikit banyak akan terbangun.

Kemudian diakhiri dengan:

Luangkan sedikit waktu untuk mendiskusikan data dengan asisten atau teman sekelompok. Mungkin selama praktikum (terutama di awal-awal) kita belum bisa langsung menilai data yang kita dapat. Maka coba untuk meluangkan waktu bersama kelompok dan asisten mendiskusikan data. Sehingga analisa yang dilakukan di laporan lebih terarah. Waktu pengumpulan yang relatif singkat (satu hari), membuat momen ini akan sangat membantu. Hanya dibutuhkan waktu 3-5 menit untuk melakukannya.

Masih banyak hal yang dapat kita eksplorasi bersama untuk terus memperbaiki kualitas berpraktikum kita. Semoga tips di atas dapat dengan mudah diaplikasikan dan memberikan nilai lebih untuk praktikum kita kedepan!

Mari berdiskusi!

Salam santai,

Adinda Ihsani Putri

Referensi:

http://physics.wm.edu/~inovikova/phys251/manual/logbook.pdf

http://www.uah.edu/writing/Word_files/lab_tips.doc

This entry was posted in Praktikum. Bookmark the permalink.

14 Responses to Tips Praktikum MME

  1. fella says:

    asisten langsung turun tangan.. ampun tuan..

    hmm, gw cmn mau nanggapin persiapan yg nomer 1, ngerjain TP, kalo menurut gw gapapa sih nyontek, asalkan pas praktikum ditanya lagi nantinya ngerti. masalahnya pengalaman gw dulu, gw bener2 pengen ngerjain TP sndiri. tp apa daya, waktu bener2 singkat bgt , apalagi bwt diskusi ke asisten (yg berpembawaan sangar2 pas memberi responsi, pasti jd segan lah, hehe), maupun dosen, jadinya malah gak sempet kekejar semuanya (pemahaman materi gak dapet, ngerjain juga gak sempet), dan gw akhirnya nyontek2 juga, tp ngerti juga enggak.. gw akui gw ini contoh salah

    nah, tips yg paling efektif sih bwt gw yg bekerjalah sbg tim, esensi praktikum mme yg gw rasakan kemarin yang dikasi sm asisten itu bner2 bisa membangun . teamwork kita, seharusnya kita dari awal dikasi TP itu, udah mulai bagi2 tugas diantara kelompok kita, dan benar2 dalami materi yg udah jd tanggung jawab kita masing2, lalu sediakan waktu untuk kumpulin jawaban, bahas bareng2 internal kelompok, satukan pendapat dan visi, gak perlu sm asisten dulu (secara asistennya jg msh sangar gt, hehe), toh nantinya juga pas tes awal kan kita yg dinilai adalah kinerja kelompok, makanya seperti yg udah ditulis td, dalami dan pahami semampunya materi yg udah jd tanggung jawab masing2.

    thx

  2. Nemi says:

    Wah tipsnya bagus sekali.. Praktikum menurut saya memang intinya melatih sense keengineeran kita. Dan menurut saya praktikum cara kesempatan bagi kita untuk mengkoreksi cara belajar (mungkin juga sistem pendidikan) kita yang mungkin selama ini masi banyak cacatnya. Cacatnya: mahasiswa belajar ga menyeluruh (cuma yg diyakini bakal keluar di ujian), belajar cuma nerimo2 aja tanpa berusaha mendalami.. Yah kalo diusut2 asal-muasalnya bisa panjang banget.. hahahah…

    Nah di praktikum ini kita musti ngerti materi secara menyeluruh, dan (idealnya) kita bisa secara kreatif ngulik/eksplore ilmu dan menemukan kebenaran dari teori2 yang ada di buku secara langsung.

    Tapi emang semuanya balik ke kita sebagai praktikan. emang musti lebih cape karena musti banyak baca dan berusaha ngertiin semuanya sendiri (ga mungkin emang semua materi kuliah MME habis dibahas di kelas kuliah MME).
    Praktikum bisa jadi cara buat memperbaikin diri dan ningkatin skill dan sense keengineran kita, tapi bisa juga kok kalo mau dibawa santai dan cuma buat menuh2in sks.

    Tapi apa iya yang katanya power engineer jago cuma mau ngelakuin hal2 yang biasa2 aja??

    Oiya, tentang asisten2 yg (keliatan) gahar. Hmm.. Ga semuanya kok gahar, gw dulu selalu baik dan ramah kok. Iya ga?
    intinya mah emang praktikum MME itu serius, resikonya besar, dan temen2 dituntut untuk berusaha belajar mandiri. Tapi kalau memang praktikan butuh bantuan dan bimbingan saya yakin asisten2 selalu siap membantu semaksimal mungkin…

    Semangat!

  3. fendy says:

    tips nya bagus…
    dengan mengikuti praktikum dengan cara yang benar maka kita akan banyak mendapatkan ilmu dan menjamin keselamatan kita bersama selama melaksanakan praktikum..

    mata kuliah di lab konversi biasanya susah2 (secara mata kuliah power gitu, hehehe mode :narsisnya dosen2 power) jadi jauh akan lebih mengerti setelah kita menjalani 4 jam ‘bersenang-senang’ bersama asisten. Klo asisten minta tes awal + praktikum lebih dari 4 jam, itu artinya semakin banyak ilmu yang didiskusikan bersama, itu bisa berarti asistennya ‘seneng’ diajak diskusi atau masih takut untuk mengijinkan praktikan melaksanakn praktikum..

    daripada beresiko menghilangkan nyawa orang dengan arus 15 A atau terancam DO karena labnya kebakar, mending asisten relakan waktunya lebih dari 4 jam untuk praktikannya. heheheheee..

    yahh intinya buat para praktikan, kalian blum ‘bisa’ kerja di dunia kerja elektro klo blum praktikum di lab konversi. =)

    buat para asisten lab konversi, kalian emang hebat… walopun gajinya gk sebesar di lab2 lain (gk tau sihh, cuma sotoy) dan sering terlambat tapi kalian masih tetep peduli.. =) semangat !

    buat para *** (tuan2 diatas mahasiswa yang paling diagungkan), alat2 di lab konversi tua-tua banget lebih tua daripada umur dosen2 di konversi.. jadi iri sama lab2 elektro lainnya… =p

  4. angin165 says:

    buat kru praktikum MME.. safety first ya..
    utamakan selamat..

  5. Dedy (13299059) says:

    Sedikit memberi respon base on pengalaman saya bersama teman2 baik selama jadi praktikan dan asisten di LPKEE selama kurang lebih 2 th….
    1. Saya sangat setuju sekali dengan poin2 yang disampaikan sebagai tips, tapi untuk poin (1) memang susah untuk dikerjakan sendiri, pengalaman saya saat memberi TP. TP dibuat untuk menuntut kerjasama dalam satu angkatan minimal 1 kelompok.. dan bukan disesain untuk tugas perorangan, meskipun terkadang TP dipecah menjadi 2 tipe (pada jaman saya), yaitu individu dan kelompok. Meskipun untuk tim, pemahaman ttg content TP wajib diketahui oleh semua praktikan.. yang ga paham “out”

    2. Mengomentari komentar sodara fendy.. menurut saya untuk praktek di LPKEE 4 jam adalah waktu yg relatif singkat.. butuh waktu diluar itu untuk diskusi/asistensi ato sejenisnya, baik dengan sesama praktikan ato ke asisten..setuju dengan yg komentar sodara fendy,

    —-(daripada beresiko menghilangkan nyawa orang dengan arus 15 A atau terancam DO karena labnya kebakar, mending asisten relakan waktunya lebih dari 4 jam untuk praktikannya. heheheheee..)—

    saya malah pernah 4 jam ngasisteni, hanya saya gunakan untuk tes awal.. karena saya merasa praktikan saat itu belum siap untuk praktikum, sehingga harus ditambah jadwal prkatikumnya…

    3. Memang gak semua asisten di LPKEE “sangar” tapi mayoritas iya… pas saya jadi asisten, malah seringkali 1 kelompok yang terdiri hanya 5 orang bisa diasisteni oleh asisten dan kawan2 asisten dengan jumlah 2 kali lipat… dan saya baru sadar manfaat hal ini ketika saya menjadi asisten ato bahkan kordas saat itu.. bener2 pengalaman yang bisa membentuk karakter…

    Hehheheee…
    Salam

  6. DEni says:

    @ Dedi, praktikumnya pernah diawasin sama saya ngga?
    tips dari gw, pdkt dengan asisten dan Pak Nana…….

    buat adek2 yang dulu saya awasin praktikumnya, mohon maaf kalo saya bikin kalian kesel dan ngedumel

  7. DEni says:

    Maap mas Dedi, ngga lihat NIM nya…….
    saya kirain Dedi yang lain……

  8. fendy says:

    yang ada lu yang pernah di asistenin den ama mas dedi…
    heheheheee…. peace… gk juga yaa?

    salam,

  9. Erik G S says:

    hahahaha…Deni blunder,,ditingali heula atuh kang :))..

    Praktikum MME…hmmm, yang pasti sangat melelahkan pas kita jadi asisten, apalagi kalo jadi koordas trus nanganin lebih dari 300 praktikan, dari jurusan2 yang tidak segar lagi (Mesin, tambang, elektro) hehehe piss ah..segar maksudnya ga banyak yang ayu2 hehehe tapi saya ingat satu kalimat dari mas2 di sana ” Yang penting pengabdiannya” hehehe sorry mas Win😀,

    Jujur, praktikum di konversi itu benar2 pengalaman yang berharga terutama pas kita jadi asisten karena banyak mengertinya justru ketika kita jadi asisten.

    Kalo dibilang ngebentuk karakter pas praktikum sih tergantung niat masing2🙂, no offense ya, karena memang ada juga yang malah kesal sama asisten karena dinilai asistennya itu seneng ngerjain, padahal mah ngga (ga tau yah yang laen, saya sih ngga hehehe)..

    Tapi yang paling keren ketika praktikum adalah pada saat empunya lab (Pak Nana hehehe) turun tangan negbantuin tes awal..hehehe mantap itu..kamana euy pak nana teh???

  10. gHina says:

    saran buat asisten atau kordas:
    ngasih TP nya per modul aja (ga sekaligus gitu), dengan waktu yang cukup. Dengan begitu, praktikan bisa belajar lebih fokus (sambil ngerjain TP sambil belajar). Pengalaman ngerjain TP waktu praktikum, bahkan ga kebayang apa yang ditulis (cuma cari bahan dari buku/dari temen trus disalin dah).

    inget-inget praktikum dulu…
    asisten favorit: Deni (gilee…pertanyaannya konsep abis. tapi bikin ngerti. dan baik hati karena akhirnya mau ngejelasin ketika kami udah stuck. hehe..)
    kelompok paling asik: Angga, Nemi, Yoshita😀
    sempet kena “OSPEK” sama Pak Nana juga :p

    praktikum MME..praktikum paling seru selama di Power😀

  11. P. A. Dahono says:

    mestinya memang per modul. yang cuma nyontek disuruh pulang

  12. yorga says:

    Pernah kejadian, ada praktikan (sy ingat dari jurusan mesin) yang laporannya persis sama. yang beda cuma font nya doang. Mungkin mereka kira, asisten ga akan baca laporan mereka satu-satu ngkali ya hahaha…

    No choice : grounded!

    (tapi akhirnya mereka bikin laporan baru sih dan “sedikit” tambahan tugas hehehe…)

  13. EDO says:

    Bagus nih tulisannya, bermanfaat Insya Alloh.
    Tinggal coba ditambahin tips2 menjadi asisten/guru yg baik. Sebab tak semua org pintar, mampu menyampaikan apa2 yg dia pahami. Guru hrs kreatif mencari cara/metode/jembatan-keledai agar orang bodoh/awam bs paham. Jgn cuma modal senioritas/sangar/galak saja.

    Konon di jepang, kalo ada murid yg bodoh, yg pertama jd bhn gunjingan adalah : siapa gurunya. Konon.

  14. Deni says:

    @EDO, Ngga konon tuh mas, udah sering ngalamin sendiri, diajarin ama orang jepang, klo saya ga ngerti yang susah malah gurunya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s