Tantangan Indonesia : Investasi besar-besaran dalam pengembangan energi yang terbarukan

(Kadek Fendy Sutrisna, 2 November 2008)

Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya energi yang berlimpah dan beragam baik yang bersumber dari fosil seperti minyak bumi, batubara, dan gas alam. Ataupun sumber energi yang terbarukan seperti tenaga surya, tenaga angin, tenaga arus laut, tenaga ombak, tenaga air, biomasa dll. Meskipun potensi sumber energi melimpah, Indonesia sampai saat ini tetap belum bisa memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya sendiri.

Pada tahun 2006, sumber utama pasokan energi Indonesia adalah minyak bumi (sekitar 40.5%), disusul biomasa ( 23% ), batubara( 17.1% ), gas alam( 16.5% ), dan geothermal ( 0.9% ) Diperkirakan pemakaian energi Indonesia akan berlipat tiga kali antara tahun 2006 sampai dengan 2020.

Meroketnya harga minyak bumi menjadikan batu bara dan gas alam menjadi tumpuan berikutnya. Namun batubara Indonesia berkualitas rendah, dan gas Indonesia sebagian besar sudah terikat kontrak untuk diekspor dalam jangka waktu yang sangat lama. Disamping itu, pilihan ini juga memiliki kosekuensi negatif yaitu meningkatnya polusi karbon yang cukup signifikan akibat pemanfaatan energi fosil (minyak bumi, batu bara dan gas alam). Indonesia adalah salah satu negara penghasil karbon terbesar di dunia. Dan melihat bahwa harga bahan bakar fosil terus meningkat, pilihan ini akan menjadi suatu pilihan yang “mahal”.

Sumber-sumber energi terbarukan praktis tidak banyak mendapat perhatian. Dibandingkan dengan potensi yang tersedia, pada tahun 2003, sumber tenaga large hidro yang termanfaatkan baru 6%, geothermal 4%, micro hidro 4%, biomasa 0.36%. Tenaga angin dan tenaga surya praktis belum termanfaatkan.

Investasi besar-besaran dalam pengembangan energi terbarukan bukan lah hal yang baru. Negara bagian Texas sebagai contoh, yang di masa lalu dikenal sebagai negara bagian paling tersohor di Amerika dalam menghasilkan minyak bumi dan gas alam, sekarang ini justru menjadi negara bagian yang paling banyak menghasilkan energi tenaga angin (2370 MW). Pada tahun 2007, dana sebesar US$ 148 Milyar diinvestasikandi bidang energi baru, dan para pemodal ventura melihat peluang besar dalam pengembangan perusahaan baru yang bergerak di bisnis energi alternatif. Contoh lain adalah Brazil, Brazil sudah melakukannya sejak awal tahun1970-an. Sesudah krisis energi menerpa dunia tahun 1973, pemerintah Brazil memutuskan untuk keluar dari ketergantungan terhadap bahan bakar minyak yang berasal dari fosil khususnya bensin. Pemerintah Brazil mengembangkan dan menerapkan kebijakan serta melakukan investasi besar-besaran untuk mengembangkan etanol yang berbasis tebu.

Sudah saatnya Indonesia bertindak untuk keluar dari resiko ketergantungan yang semakin lama makin besar tersebut, Indonesia tidak punya pilihan lain selain memberi perhatian terhadap pengembangan energi terbarukan.  Para ahli di perguruan tinggi, lembaga riset perusahaan dan pemerintah Indonesia hendaknya masuk dalam arus usaha global tersebut. Setiap daerah di Indonesia perlu mengenali potensi lokal energi terbarukan yang tersedia dan memanfaatkan potensi tersebut sebagai kekuatan untuk meningkatkan kemampuannya mengembangkan energi terbarukan di Indonesia.

Bagi masyarakat akademik, inilah peluang kita untuk memanfaatkan ilmu dan teknologi yang kita miliki guna memenuhi kebutuhan yang paling mendasar seluruh rakyat Indonesia. Ini adalah kesempatan untuk berkontribusi dalam membangun negara dan bangsa Indonesia  yang lebih bermartabat karena mampu mandiri di bidang energi.

Semangat! Karena penundaan akan menimbulkan resiko yang lebih besar di masa yang akan datang. Segala sesuatu yang besar selalu berasal dari sesuatu yang kecil.

Reference :

1. Kuliah Umum Arifin Panigoro (Founder of Medco Group), Merebut Masa Depan : Menyemai Energi, Pangan dan Pendidikan, 30 Oktober 2008

2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakna Energi Nasional, Ditetapkan di Jakarta 25 Januari 2006

About konversi

This blog is a blog made by the students of the Laboratory Of Electric Energy Conversion, ITB. This blog shall be the place for us to write our researches and projects. Feel free to read any of the contents of this.
This entry was posted in Announcement, Green Energy. Bookmark the permalink.

5 Responses to Tantangan Indonesia : Investasi besar-besaran dalam pengembangan energi yang terbarukan

  1. Pingback: Mengapa Harus PLTN? « Konversi ITB

  2. harripao says:

    Setuju, karena perubahan ke arah konversi energi di masa depan pasti terjadi, mengingat permasalahan global yang tengah berlangsung, spt: jaminan pasokan energi, pemenuhan kebutuhan pangan dan kerusakan lingkungan hidup (pemanasan global). Teruskan untuk mengedukasi masyarakat (awam) ttg renewable energi.

    Sukses untuk anda!

    Salam

    harri pao

    blogodril

  3. panji says:

    Dear Pak Kadek,

    apakah memiliki informasi persentase penggunaan energi per sektor ? (mis: transportasi, industri dll). hal tersebut penting untuk rencana pengembangan energi alternatif di Indonesia

    salam.

  4. Cicip says:

    Setuju sekali Pak Kadek,
    Indonesia harus investasi besar-besaran untuk menggali potensi energi terbarukan.
    Saya merasa miris kalau membaca Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008-2027, dimana peran batubara akan ditingkatkan hingga mencapai rata-rata 61% dari bauran energi pembangkit.
    Pada RUKN tersebut dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 2008-2027 (20 tahun), Indonesia memerlukan TAMBAHAN tenaga listrik sekitar 172,000 MW. Sekitar 81.9% atau 140,000 MW adalah untuk tambahan Jawa-Madura-Bali (JAMALI). Jadi, total kapasitas PLTU batubara untuk JAMALI akan mencapai 85,400 MW, atau setiap tahun diperlukan pembangunan PLTU baru rata-rata 4,720 MW.
    Kalau efisiensi thermal PLTU rata-rata 35% dan kalori batubara yang dipakai 4,500 Kcal/Kg (4.5 juta Kcal/Ton) (net as received), rata-rata pemakaian batubara adalah: ((859,845.23 Kcal/MWh) /35%)/4.5 juta Kcal/ton = 0.55 ton/MWh. Jika ketersediaan waktu operasi PLTU adalah 70% x 24 jam/hari x 365 hari/tahun = 6,132 jam/tahun, maka PENAMBAHAN BATUBARA yang harus dikrim ke JAMALI (dari Kalimantan dan Sumatra) adalah: 4,720 MW x 6,132 jam/tahun x 0.55 ton/MWh = 14.30 juta ton/tahun, atau mencapai 285.89 juta ton pada tahun 2027 – banyak sekali ya ?
    Bagi para pemain bisnis batubara, penambahan batubara sebanyak itu bisa menjadi peluang yang menggembirakan. Tetapi ingat, Pulau Jawa adalah pulau berpenduduk terpadat di dunia. Barangkali dapat dibayangkan bagaimana sumpeknya P. Jawa yang hanya 7% dari luas daratan Indonesia, yang pada tahun 2027 mungkin akan berpenduduk sekitar 185 juta jiwa, tetapi membakar batubara hampir 8 x lipat dari keadaan sekarang ?????.
    Bagi P. Jawa yang sudah sumpek, PLTU dan PLTA (bendungan besar) sepertinya tidak dapat dijadikan pilihan lagi bagi pembangkit masa depan. Energi terbarukan (geothermal, surya, angin, ombak, pasang-surut, panas laut, arus sungai, dll) seharusnya sudah menjadi pilihan dari sekarang
    PLTD-PLTD yang menggunakan BBM subsidi di P. Jawa maunpun di Luar P. Jawa seharusnya juga sudah diganti dengan sumber energi terbarukan, mulai dari sekarang, karena penggunaan BBM ujung-ujungnya hanya memperkaya raja-raja Arab yang sudah sangat super kaya, serta hanya membuat PLN merugi dan merugi (tidak berdaya), yang akhirnya banyak menyengsarakan rakyat sendiri.
    JADI, Laboratorium Konversi ITB barangkali sudah saatnya juga ditantang untuk menciptakan pembangkit listrik dengan sumber energi terbarukan yang bersih, murah dan melimpah di negeri tercinta ini. Wahai ITB buktikan nama besarmu !!!
    Wassalam & mohon maaf lahir dan batin,
    Cicip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s