Perlukah kita berhemat listrik..?

Perlukah kita berhemat listrik..?

Arwindra Rizqiawan

Sekarang ini gencar sekali dimana-mana kita dengar “Pembangunan berkelanjutan” atau lebih populer dengan istilah “Sustainable Development“. Sustainable development sendiri dapat kita artikan sebagai suatu pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masa sekarang dengan tidak mengorbankan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka,  dengan meminjam istilah lain maka sering dikatakan “lingkungan yang kita tempati sekarang ini bukan merupakan warisan dari nenek moyang kita, tetapi merupakan pinjaman dari anak cucu kita”. Karena yang kita tempati sekarang ini merupakan ‘pinjaman’ sudah kewajiban kita untuk ‘mengembalikan’ dalam kondisi utuh untuk dipakai mereka.

Sustainable development di bidang energi saat ini juga harus mulai mendapat porsi perhatian yang cukup besar. Di akhir abad ini diperkirakan jumlah populasi penduduk dunia akan meningkat dua kali lipat, peningkatan populasi ini tentu saja dibarengi dengan peningkatan permintaan kebutuhan energi. Kenaikan permintaan energi mungkin akan menjadi sekitar dua kali lipat atau bahkan lebih. Sedangkan pola penyediaan energi sekarang ini, cenderung berpotensi untuk membahayakan manusia maupun lingkungan hidup. Ini merupakan tantangan besar bagi umat manusia, bagaimana kita bisa menyediakan energi yang aman, bersih, dan berkelanjutan bagi manusia di bumi?

Kemungkinan solusi untuk pertanyaan diatas bisa dengan mulai untuk menggunakan sumber-sumber energi yang rendah emisi karbon atau bahkan tanpa emisi karbon. Tentu saja perlu dikampanyekan bahwa penggunaan energi alternatif tidak berarti kita total menggantikan energi fosil, melainkan hanya mengurangi porsi energi fosil. Disamping untuk solusi ini memang diperlukan investasi yang tidak kecil untuk saat ini, namun dalam beberapa tahun ke depan teknologi untuk sumber energi alternatif akan meningkat sehingga sumber energi alternatif akan kompetitif dengan sumber energi fosil. Solusi yang lain adalah dengan mulai melakukan penghematan energi, terutama listrik. Solusi ini merupakan solusi mudah dan cepat untuk diterapkan, disamping pada beberapa kasus penghematan tidak diperlukan investasi sama sekali.

Namun menurut saya gerakan penghematan yang sudah dikampanyekan berkali-kali ternyata belum berjalan di masyarakat kita. Benar bahwa PLN sudah mengiklankan besar-besaran “Matikan 1 lampu 17.00-22.00“, atau dengan slogan “Hemat energi, hemat biaya” namun selama masyarakat masih menikmati subsidi sehingga listrik masih terjangkau (dengan kata lain, murah sekali) pola hidup hemat listrik saya rasa masih akan jauh untuk terwujud. Di ASEAN saja tarif listrik kita pada tahun 2003 hanya lebih mahal dari Laos, dengan negara ASEAN lain kita masih lebih murah. Dengan kondisi seperti itu maka akan muncul anggapan “Mengapa saya harus berhemat kalau porsi listrik saya hanya sebagian kecil dari seluruh biaya yang harus saya tanggung??” Dengan diberlakukannya tarif listrik progresif dengan sistem insentif-disinsentif mulai tahun ini oleh PLN, saya melihat ada ‘blessing in disguise‘ karena dengan adanya penalti tarif maka saya harap banyak pihak mulai ‘memikirkan’ perlunya penghematan listrik supaya tidak terkena penalti harga oleh PLN. (Terlepas dari berbagai pihak yang mengatakan bahwa sistem tarif ini sebenarnya akal-akalan PLN, saya tidak terlalu memikirkan sisi itu, juga bukan berarti saya anti dengan subsidi oleh negara).

Slogan seperti yang saya sebutkan sebelumnya “Matikan lampu 17.00-22.00” memang ditujukan untuk mempersuasi masyarakat supaya berhemat listrik. Namun yang perlu ditekankan adalah penghematan tidak boleh mengorbankan produktivitas dan kenyamanan. Untuk kasus lampu, artinya yang dimatikan hanya lampu-lampu yang memang tidak dipakai. Mengganti lampu belajar dengan lampu berdaya lebih rendah bukanlah suatu langkah penghematan menurut saya. Tidak menjadi masalah kita menggunakan listrik secara berlebih asalkan produktivitas kita juga bertambah. Yang jadi masalah adalah kita menggunakan listrik berlebih namun tidak ada yang kita manfaatkan, inilah yang menjadi sasaran penghematan.

Langkah penghematan bisa dimulai dari hal-hal keseharian yang sederhana. Mematikan lampu kamar mandi ketika tidak dipakai merupakan salah satu langkah maju untuk berhemat. Saya sangat setuju dengan anjuran pemerintah beberapa waktu yang lalu yang menyarankan memakai baju batik untuk keperluan formal, dengan menghindari pemakaian jas maka penggunaan penyejuk udara bisa diatur pada suhu 20-23 derajat celcius saja ini merupakan penghematan yang besar. Desain bangunan dan penataan lampu sejak awal juga harus mulai memikirkan penghematan yang bisa dilakukan nantinya, bagaimana mendesain bangunan yang hemat energi namun tidak mengorbankan sisi estetikanya.

Banyak yang bertanya-tanya kenapa perusahaan seperti PLN justru mengkampanyekan hemat listrik, padahal kalau kita berhemat maka pendapatan PLN akan menurun. Namun pada kenyataannya bukan seperti itu kondisi yang ada. Efisiensi energi dari bentuk sumber energi primer di pembangkitan hingga di sisi beban oleh konsumen bisa hanya sebesar 16% saja, artinya setiap satu satuan yang bisa kita hemat di sisi konsumen maka kita akan menghemat energi primer yang dibutuhkan enam kali lebih besar. Dengan kondisi harga bahan bakar yang seperti beberapa bulan kemarin tentu saja hal penghematan ini akan sangat signifikan imbasnya bagi penyedia listrik seperti PLN. Dan juga upaya menghemat daya sebesar 1 MW akan membutuhkan investasi yang jauh lebih murah dan mudah dilakukan daripada kita harus membangkitkan daya sebesar 1 MW juga.

Kembali kepada pertanyaan di awal, perlukah kita berhemat listrik..? menurut saya, YA..

Kredit kepada Dr. Ir. Pekik Argo Dahono untuk diskusi dan penjelasannya.

About angin165

Pria, Indonesia, muda, lajang, belum mapan.
This entry was posted in Green Energy. Bookmark the permalink.

14 Responses to Perlukah kita berhemat listrik..?

  1. Pingback: Perlukah kita berhemat listrik..? « nang windar and the mosquito commander

  2. fendy says:

    mari kita coba lebih menghemat listrik di lab konversi kita..
    gmana? =)

    artinya densitas produktifitas kita melakukan reseach dan mengerjakan TA di lab konversi meningkat dengan konsumsi listrik yang kita pakai..

    Jadi pemerintah gk rugi mensubsidi kita selama kuliah di itb.. hehehehee…. =p

  3. angin165 says:

    sepakat, mulai dengan matikan lampu kamar mandi, jangan pakai lampu merkuri kalau ngga perlu, sama matikan monitor komputer..🙂

  4. Cokor Permanen says:

    kalau lampu kamar mandi dimatiin agak spooky win. Tapi kalau layar monitor, komputer emang itu perlu perhatian lebih penggunaan listriknya, soalnya terlalu hambur.. ga pernah dimatiin kalo lagi ga dipake.

    -Haryo-

  5. angin165 says:

    ralat yo, maksudku matikan lampu kamar mandi kalau sedang tidak dipakai, aku jg males mandi kalo harus gelap-gelapan. ngga masalah mandinya terang benderang pakai heater super panas asal kita bisa menjamin mandi kita berkualitas😀
    ini masalah budaya sih emang, mari kita saling mengingatkan..

  6. DEni says:

    Wah, ngomongin hemat listrik yah….
    Ehm…ehm….
    Mas Yo, udah setahun di konversi masih takut aja ke kamar mandi……!!!
    Lampu merkuri tuh yang boros (masih ada yang malem2 percobaan?)
    Percobaan dibuat seefektif dan seefisien mungkin (A.K.A –> lamain test awalnya hehehehe)

    Klo disini dipisahin nih meteran siang sama malem….Jadi agak mikir2 kalo malem mau nyalain AC….

    Good reading…..
    Keep going….

  7. fendy says:

    hwahhhh….
    jadi di jepang listrik saat malem lebih mahal yaa daripada siang?

    caranya dia berpindah gmana?
    hwahhh indonesia bisa meniru tuh kayaknya… =p

    percobaan malem2 tambah banyak deh kayaknya..
    tiada hari tanpa menginap di lab skarang den..
    citra jadi rekor mahasiswa yang paling rajin nginep di leb…

    bagi foto-foto lu di jepang dong den…
    pingin liat…
    sukses yaa kakak PADRG kita…

  8. Cokor Permanen says:

    Percobaan sekarang bukan saja tambah malam, tapi makin mendekati waktu subuh dek..
    Oh iya, sekarang citra dan fajar udah sering tidur di lab lho, mereka jadi tambah akrab sekarang.. Semoga persahabatan tersebut berlangsung lama.

  9. sastrowijoyo says:

    he eh citra dah seminggu nih tidur di lab
    gw ampe ga kuat nemeninnya. hari keempat nyerah gw pulang kosan.. hehehe…..

    kalo praktikum sekarang ga tambah malem kali. tambah mendekati waktu subuh. apalagi waktu lomba kemaren. urang, kadek ama karyo ampe jam 4 masih muter2 generator ama ngutak-atik DC-DC😛

  10. fendy says:

    jadi keliatan gay gini??

  11. sastrowijoyo says:

    wah si haryo nih komen ga kira2,,, kalo ada yg ngira urang gay kumaha nih?

    tahpapa

  12. dwi says:

    numpang lewatt gaann

  13. Pingback: Articles | nang windar and the angin165

  14. Proliant says:

    Very nice article.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s