Pembangunan Berkelanjutan (Bag. 1)

Pembangunan Berkelanjutan (Bagian 1)
Sustainable Development – Développement Durable
Kus Adi Nugroho
Sustainable-Power Solutions – Alcatel-Lucent France

“So we urgently need to increasingly control our demands for energy. The time has passed when we could talk about solar energy versus hydrocarbons, hydrocarbons versus nuclear energy, fossil fuels versus renewable facilities, etc. We need now to use every possibility and on every scale; individual, local, regional, national, and global. Now is the time for us to put everything to account.” [Michael Combarnous dan Jean-François Bonnet]

Dalam bagian pertama ini, penulis ingin berbagi mengenai konsep sustainable development, atau yang biasa diterjemahkan sebagai pembangunan berkelanjutan, secara umum. Definisi pembangunan berkelanjutan akan dipaparkan dalam artikel ini, beserta dengan indikator-indikatornya dan pola hubungannya. Selain itu, upaya-upaya dalam rangka sustainable energy diberikan pada akhir artikel ini. Upaya-upaya ini merupakan beberapa hal yang dapat negara kita lakukan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan di bidang energi.

Definisi

“The essence of sustainability is the need to satisfy our needs without compromising the ability of future generations to meet their own needs.” [World Commission on Environment and Development]

“Sustainable development is defined as a process of change in which the exploitation of resources, the direction of investments, the orientation of technological development, and institutional change are all in harmony and enhance both current and future potential to meet human needs and aspirations.” [Naim Hamdia Afgan]

Pembangunan yang berkelanjutan menjadi isu penting dunia saat ini karena menyangkut ketersediaan dan keberlanjutan aspek-aspek penting dalam hidup manusia yaitu energi, lingkungan dan air. Keterbatasan sumber energi, pemanasan global, dan keterbatasan jumlah air bersih, merupakan masalah-masalah utama yang harus dapat diselesaikan dengan pembangunan yang berkelanjutan. Menurut definisi di atas, jelas bahwa eksploitasi alam dalam pengembangan kualitas hidup manusia saat ini harus memperhitungkan keberlanjutan alam sehingga dapat terus dirasakan manfaatnya untuk generasi mendatang. Pembangunan yang berkelanjutan harus memperhitungkan keterbatasan seluruh sumber alam dan kemampuannya untuk memperbaharui diri secara alami.

Konsep pembangunan berkelanjutan sangat dipengaruhi oleh trend global saat ini, yaitu globalisasi, demokratisasi, dan desentralisasi. Namun pengaruh ketiga hal tersebut tidak dibahas lebih lanjut dalam kesempatan ini. Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa keputusan konsep pembangunan yang berkelanjutan masih sangat bergantung pada aspek-aspek sosial, politik, dan ekonomi.

Pembangunan yang berkelanjutan dapat diukur dengan tiga indikator, yaitu sosial, lingkungan (ekologi), dan ekonomi. Indikator sosial dapat dilihat dari peluang kerja yang dihasilkan, perbedaan kualifikasi, dan keamanan. Indikator ekologi dapat dilihat dari konsentrasi produk yang dihasilkan dari suatu proses produksi yang dapat berefek pada lingkungan lokal, regional, dan global (contoh : konsentrasi CO2 yang dihasilkan). Sedangkan indikator ekonomi dapat dilihat dari biaya investasi termasuk biaya material, biaya bahan bakar, efisiensi termal, dan biaya operasi dan perawatan.

Pola hubungan indikator tersebut memengaruhi sustainability index, yaitu suatu nilai yang digunakan dalam pembuatan keputusan suatu sistem. Pola hubungan ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Pola tersebut dapat diartikan sebagai berikut. Suatu pembangunan dikatakan „liveable“ atau „nyaman“ apabila pembangunan tersebut memenuhi kriteria sosial dan lingkungan sehingga manusia dan alam dapat berkesinambungan. Namun kondisi ini belum dikatakan „sustainable“ atau „berkelanjutan“ karena secara ekonomi tidak memenuhi. Suatu pembangunan juga dikatakan sebagai „viable“ atau „dapat berjalan“ apabila pembangunan tersebut memenuhi kriteria lingkungan dan ekonomi. Namun, karena kondisi ini tidak dapat disinambungkan dengan kondisi sosial manusia, maka kondisi ini belum disebut sustainable. Pembangunan yang hanya memenuhi kriteria sosial dan ekonomi saja disebut sebagai „equitable“ atau dalam terjemahan kasarnya sebagai „adil“ secara ekonomi dan sosial, namun karena tidak memnuhi kriteria lingkungan, kondisi ini tidak sustainable. Untuk mencapai kondisi yang sustainable, kriteria sosial yaitu persamaan hak antara manusia, kriteria lingkungan yaitu preservasi dan konservasi alam, dan juga ekonomi yaitu efisiensi yang tinggi, harus dipenuhi.

Sustainable Energy

“The struggle for life is not a struggle for basic elements or energy, but a struggle for the availability of energy transferred from the Hot Sun to the cold Earth.” [Boltzmann]

Sustainable energy, merupakan bagaimana agar kebutuhan manusia akan energi pada saat ini tidak mengorbankan ketersediaan energi untuk generasi mendatang, dan memberi efek negatif pada lingkungan.

Negara Indonesia, memiliki sumber daya alam yang melimpah, terutama sumber daya mineralnya. Namun kita terlena akan keberlimpahan tersebut, padahal bagaimanapun juga, sumber-sumber tersebut akan habis pada akhirnya. Harus ada upaya-upaya untuk mengurangi laju konsumsi sumber daya tersebut dan pengembangan sumber daya alternatif untuk menjamin keberlangsungan ketersediaan energi di Indonesia. Aspek sosial dan lingkungan juga turut doperhitungkan dalam upaya-upaya pembangunan berkelanjutan.

Beberapa trend global untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di bidang energi adalah sebagai berikut:

  • Peningkatan efisiensi pada pembangkit listrik bahan bakar fosil konvensional (contoh: penggunaan regenerator, reheater, dan lainnya, penambahan proporsi PLTGU yang memiliki efisiensi tinggi, dan lainnya).
  • Penggunaan energi yang bertahap, seperti bahan bakar tidak hanya digunakan untuk menghasilkan panas dan listrik, melainkan juga produk kimia dan bahan bangunan. Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan semaksimal mungkin kandungan energi yang terdapat dalam bahan bakar.
  • Pengurangan proporsi penggunaan bahan bakar minyak dan gas dalam industri kelistrikan, dan dikompensasikan dengan batu bara dan nuklir, dan juga sumber energi terbarukan (angin, matahari, dan biomass).
  • Pengembangan energi baru (diversifikasi energi), terutama energi hidrogen dan fuel cell.
  • Efisiensi penggunaan energi (perlunya peningkatan kesadaran hemat energi), karena penambahan 10 % energi jauh lebih sulit daripada penghematan 10 % energi.
  • Mitigasi/pengurangan emisi CO2 berteknologi tinggi (pemisahan, pemulihan, dan penyimpanan CO2)

Beberapa langkah tersebut akan dijelaskan lebih lanjut dalam bagian 2.

Kesimpulan

Pembangunan yang berkelanjutan harus mulai disadari sejak saat ini. Aspek sosial, lingkungan dan ekonomi merupakan aspek-aspek yang harus diperhatikan untuk melakukan suatu pembangunan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Adalah tanggung jawab kita keberlangsungan hidup anak cucu kita.

Referensi
Hanjalic, K., Sustainable Energy Technologies, Options and Prospects, Springer, Dordrecht, 2008

About konversi

This blog is a blog made by the students of the Laboratory Of Electric Energy Conversion, ITB. This blog shall be the place for us to write our researches and projects. Feel free to read any of the contents of this.
This entry was posted in Green Energy. Bookmark the permalink.

12 Responses to Pembangunan Berkelanjutan (Bag. 1)

  1. angin165 says:

    Kalau secara ekonomi terlalu murah, kadang masyarakat tidak akan memasukkan faktor ekonomi di rencananya, selama itu “liveable/nyaman” maka selesai sudah.
    Aku pikir konsep penghematan masih berat untuk di Indonesia, mengingat energi masih mendapatkan subsidi yg sangat besar sehingga kita terbiasa mendapat energi dengah harga murah.
    Dengan kata lain, kalau menghemat dan tidak berhemat ngga ngaruh (bayarnya), trus kenapa berhemat? Masih panjang tampaknya mengubah yg semacam ini.

    • eng says:

      kalo gitu gampangnya ya cabut saja subsidinya kan? masyarakat akan mikir dua kali untuk “boros”. Yang paling baik menurutku, subsidi diberikan bagi yang benar-benar tidak mampu, misalnya pada kebutuhan energi listrik. Dalam hal ini, pengguna listrik diatas 500VA tidak layak disubsidi. Contoh lain misalnya pada transportasi, maka subsidi diberikan hanya untuk transportasi masal, tidak kepada pengguna kendaraan pribadi, tentunya sebaiknya transportasi masal dimiliki dan dikelola oleh pemerintah. Sehingga selain mengurangi jumlah kendaraan di jalanan, juga mengurangi konsumsi bahan bakar serta polusi yang diakibatkannya.

      • angin165 says:

        -mas eng
        hehe, terlalu ekstrim mungkin mas eng kalau di cabut, toh memang itu tugas negara untuk mengayomi rakyatnya. kalau ga ada subsidi segala macam ya ga perlu ada negara-negara di dunia ini.
        Tetapi mungkin subsidinya dibikin tepat sasaran, seperti saran mas eng, subsidi BBM untuk MRT, minyak tanah untuk rumah tangga, dsb. Sekarang yg menikmati subsidi BBM kan kebanyakan pemilik mobil pribadi, yg notabene pasti mampu beli BBM lha wong mampu beli mobil🙂

    • kadokura says:

      nahh itu dia win,
      sama sodara bos, sama sodara tuan, nego lahh..
      yang penting sama2 enak lahh..
      Selesai.. !

      Salah banget nih budaya yang seperti ini.. !
      Habis experimen di lab, dapet hasilnya, lulus, udah !! Alat2nya dibiarin berantakan, datanya gk ada yang sisa untuk diteruskan.
      Gk bisa sustainable banget nih kalo gini.. hehehehee…

      Kalo inget hukum alam, ngubah energi yang ada di alam untuk bisa dimanfaatkan manusia itu mudah banget, yang susah itu sebaliknya,,

      Butuh tenaga yang lebih besar untuk mengembalikan sesuatu ke posisi atau ke keadaan semulanya, dari entropi yang lebih besar ke entropi yang lebih kecil.. (tau ini setelah baca ttg ilmu termodinamika : batu yang menumbuk tanah menimbulkan panas berbanding lurus dengan h (E = mgh), tapi dengan panas yang sama gk bisa buat batu terbang ke atas ke posisi gravitasi semulanya..(deddy corbuzier mungkin bisa kali yaa? belum tau aja nih pengarang buku termodinamika ini =p))

      Mungkin ini kus alasan kenapa harga listrik di Perancis mahal. ^_^

      mungkin kalo Penelitian di Lab atau di Indonesia mau sustainable, biaya penelitiannya harus lebih banyak kayaknya yaa karena memang butuh tenaga yang lebih besar dari sekarang yang asisten2 di Labnya sampai gk tidur2.. =p

  2. kus says:

    Ya itu masalahnya, pemerintah masih kebingungan menentukan subsidi yang tepat sasaran. Yang paling mudah ya langsung kasih duit ke orangnya.

    BBM yang disubsidi kan bertujuan untuk menggiatkan industri otomotif di Indonesia. Padahal, memang kita punya industri otomotif yang murni Indonesia??
    Kesalahan subsidi BBM juga bisa kita lihat sampai ditutupnya jalur KA Parahyangan, yang justru milik negara! KA Parahyangan ditutup karena kalah bersaing dengan travel-travel yang menggunakan BBM disubsidi, padahal KA Parahyangan menggunakan BBM harga industri.
    Mengenai energi listrik, saya melihat perbedaan yang kontras antara kondisi Indonesia dan Prancis. Di sini, 78 % menggunakan nuklir, 15 % air, dan sisanya bahan bakar fosil dan terbarukan. Tetapi, harga listriknya masih jauh di atas harga listrik kita. Kalau menurut saya, ini sih penipuan, harga seharusnya tidak perlu setinggi itu. Tapi apa akibatnya? pelayanan memuaskan, seluruh warga menikmati listrik walaupun di tempat yang sulit terjangkau, dan yang paling penting, timbulnya kesadaran hemat energi.

  3. kadokura says:

    Pembahasannya keren habis..
    tuan kus bisa berbagi pengalaman yang ada di Perancis dengan baik untuk teman2 Indonesia lainnya..
    Tapi kalo dipikir2 di Perancis sudah bisa dikatakan sustainable juga gk kus?
    Tiga pilar sustainablenya sudah terpenuhi?

    (kayaknya semua negara maju pendekatannya ke pembangunan berkelanjutannya sama juga seperti Perancis, Jepang juga sama seperti itu, kalo melihat dari contoh ttg listrik mahal yang lu angkat yang akhirnya bisa membuat pelayanannya jadi bagus dan ujung2nya warganya jadi sadar)

    Hal yang sama gw yakin gk akan bisa diterapkan di Indonesia saat ini, negara berkembang lainnya juga dengan cara bagaimanapun,
    karena realistis aja kalo diterapin warga kita dari segi ekonomi tidak akan bisa beradaptasi dan berusaha seperti halnya warga perancis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Contoh lah, di pulau kelahiran gw, Bali : akhirnya ada 3 harga berbeda dan tiga pelayanan berbeda,, untuk orang lokal, untuk tamu asing dan tamu lokal, =p

    Emang intinya sih harus bertahap mungkin yaa? Sekarang Indonesia lagi tahap ‘equitable’,, seperti kata mas windra pemerintah harus pinter2 ngatur strategi dan bersandiwara mengayomi rakyatnya supaya tetap merasa ‘adil’ agar bisa menuju langkah besar selanjutnya seperti bahasan di artikel lu ini kus,, gitu lah istilahnya gw.
    Semangatt.. !
    Jadi gk semangat nunggu artikel yang bagian kedua.. ^_^

  4. Kadek 'kadokura' Fendy says:

    gk sabaran maksudnya..
    salah nulis saking semangatnya..
    ^_^

    • angin165 says:

      kalem, kalem dek, tunggu sambil minum kopi dulu😛
      ya bukan bersandiwara dong pemerintahnya, tetep harus serius dalam menentukan suatu kebijakan, perkara ada yg suka ada yg tidak suka dengan kebijakan pemerintah itu urusan pribadi masing-masing.

  5. Kadek 'kadokura' Fendy says:

    Bersandiwara tanda kutip win supaya kebijakan tetap berjalan sesuai rencana awal,,
    supaya gk di demo untuk turun sama yang kontra atau lawan politiknya, hal biasa untuk dipertimbangkan mengingat suhu politik negara kita yang lagi sakit.. =p

  6. PULSA MURAH says:

    pulsa murah masakini

  7. Pingback: MAKALAH KOMUNIKASI PEMBANGUNAN « PASCASARJANA UNHALU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s