Pilih Mana: Energi Nuklir atau Energi Terbarukan?

Pilih Mana: Energi Nuklir atau Energi Terbarukan?

Arwindra Rizqiawan

Pemanasan global beserta segala isu yang menyertainya saat ini telah dijadikan acuan dalam penentuan setiap langkah pembangunan, termasuk penentuan kebijakan bidang energi. Alternatif yang muncul sekarang tinggal memilih antara menggunakan energi nuklir atau energi terbarukan karena dari sudut pandang emisi karbondioksida kedua jenis ini dianggap rendah emisi CO2. Tulisan ini akan mencoba membahas kedua jenis opsi tersebut. Energi angin dipilih sebagai representasi dari energi terbarukan karena porsinya yang relatif besar dibanding jenis energi terbarukan lainnya.

Kondisi sekarang

Pemanasan global beserta segala isu yang menyertainya saat ini telah dijadikan acuan dalam penentuan setiap langkah pembangunan, termasuk penentuan kebijakan bidang energi. Tanpa ada tindakan yang serius, dengan pola yang ada sekarang, pada akhir abad ini bisa diharapkan suhu udara global di bumi akan naik 6 derajat Celcius. Tentu saja kenaikan sebesar ini akan membahayakan kehidupan mahkluk hidup di bumi. Dunia internasional sepakat bahwa untuk menghindari bahaya pemanasan global, kenaikan suhu hanya boleh maksimum 2 derajat dari kondisi sebelum masa industrialisasi dimulai. Untuk mencapai target ini diperlukan pengurangan emisi karbon sebesar 80% pada tahun 2050[1].

Pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil sudah tidak dijadikan prioritas kebijakan yang dijalankan untuk mencapai target pengurangan emisi karbon sebesar itu, walaupun pertumbuhan energi listrik dari sektor ini masih diproyeksikan tumbuh sebesar sekira 2% hingga beberapa tahun ke depan[2]. Alternatif yang muncul sekarang tinggal memilih antara menggunakan energi nuklir atau energi terbarukan karena dari sudut pandang emisi karbondioksida kedua jenis ini dianggap rendah emisi. Tanpa memasukkan pembangkit air pada pembahasan tentang energi terbarukan kali ini, energi terbarukan sendiri tumbuh dengan sangat cepat belakangan ini. 60% instalasi baru di eropa dan 50% di Amerika Serikat adalah dari sektor energi terbarukan, bahkan pada kasus energi angin pertumbuhan global mencapai sekitar 30% pada tahun 2009[3]. Gambar 1  menunjukkan pertumbuhan energi angin.

Gambar 1. Pertumbuhan energi angin global dalam MW.[1]

Pada tahun 2008 kapasitas pembangkit nuklir di dunia sekitar 370 GW menghasilkan energi sebesar 2600 TWh. Porsi sebesar ini sekitar 14% dari total listrik global, ditunjukkan pada Gambar 2. Pembangunan pembangkit nuklir cukup pesat pada tahun 1970-1980, sekitar 20 tahun terakhir hampir tidak ada pertumbuhan energi nuklir yang berarti. Gambar 3 menunjukkan pertumbuhan energi nuklir. Dengan telah tercapainya usia pakai pembangkit-pembangkit generasi awal, keputusan besar harus segera ditentukan apakah harus membangun pembangkit nuklir yang baru atau tidak.

Gambar 2. Pembangkitan listrik global berdasar bahan bakar.[4]

Gambar 3. Pertumbuhan energi nuklir global. [1]

Pertumbuhan dan Kontribusi

Dengan laju pertumbuhan masing-masing sekarang ini, kontribusi pertumbuhan energi nuklir jauh lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan energi terbarukan. Sejak satu dekade terakhir pertumbuhan energi nuklir hanya sekitar 2 GW per tahun, itupun ditambah kondisi stagnan mulai tahun 2005. Di sisi lain, pertumbuhan energi terbarukan, pada kasus ini energi angin, mencapai 10 GW rata-rata pertahun. Gambar 4 menunjukkan pertumbuhan energi nuklir dan angin.

Gambar 4. Pertumbuhan energi nuklir dan angin dalam GW.[1]

Walaupun pertumbuhan energi angin cukup tajam dalam tahun-tahun belakangan, tetapi apabila kita lihat secara menyeluruh, kontribusi energi terbarukan non-hidro masih sangat jauh dibandingkan dengan kontribusi energi nuklir terhadap total kebutuhan energi global. Pada saat sekarang ini tersedia 370 GW dari energi nuklir, dibandingkan dengan hanya 37 GW yang tersedia dari energi terbarukan angin pada tahun 2009[1]. Dari sisi besar energi yang diberikan, kontribusi energi terbarukan angin hanya sekitar 400 TWh, sekitar enam kali lebih kecil dari kontribusi energi nuklir sebesar 2600 TWh yang ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Kontribusi energi nuklir dan angin dalam TeraWatthour (TWh). [1]

Nuklir vs. Terbarukan?

Bagi saya, ada perbedaan cara pandang yang cukup jelas dalam pengambilan kebijakan apakah nuklir atau terbarukan yang akan dijadikan pijakan pembangkitan rendah emisi. Pembangkitan berbasis nuklir adalah sesuatu yang besar, tidak banyak unit, dan terpusat. Berlawanan dengan itu, pembangkitan berbasis energi terbarukan biasanya dibangun secara tersebar, skala kecil, dan sangat bergantung terhadap keadaan lokal. Perbedaan ini sangat penting karena akan menentukan arah pembangunan setelahnya, apakah akan terpusat atau tersebar. Terlepas dari hal dasar tersebut, ada beberapa poin khusus antara energi nuklir dan energi terbarukan yang menarik untuk diulas.

Investasi

Ciri mencolok dari pembangkit listrik berbasis nuklir adalah biaya investasi yang sangat besar besar di awal pembangunan, walaupun biaya operasi setelah pembangkit berjalan bisa lebih rendah daripada pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil.

Apabila teknologi lain harganya akan semakin murah seiring semakin banyak dipakai dan teknologinya semakin matang, tidak demikian dengan nuklir. Sejak pertama kali mulai gencar pembangunan pembangkit nuklir di tahun 1970-an, harga investasinya justru malah semakin naik. Pada kasus di Amerika Serikat dan Perancis, 2 negara yang porsi energi nuklirnya besar, harga per kW terpasang justru naik lima dan empat kali lipat dari sekitar 25 tahun terakhir. Estimasi harga konstruksi pembangkit nuklir saat ini sekitar 3200 – 4500 US$ per kW[1], dibandingkan dengan harga konstruksi pembangkit angin yang berada di kisaran 1400 – 1800 US$ per kW[5]. Ditambah kondisi bahwa untuk harga pembangkit energi terbarukan akan semakin murah seiring semakin banyak pemakaian dan semakin matangnya teknologi yang dipakai.

Ketersediaan

Penggunaan energi terbarukan membutuhkan perhitungan yang cermat untuk pemilihan lokasi dan potensi yang tersedia. Sifat dari sumber-sumber energi terbarukan non-hidro yang tidak konstan juga menuntut adanya prakiraan beban dan produksi energi yang akurat dari operator. Semakin banyak porsi energi terbarukan yang masuk ke sistem yang ada berarti juga meningkatkan ketidak-pastian sistem dalam menghasilkan energi dan melayani permintaan beban[6]. Tentu saja hal ini harus menjadi perhatian khusus.

Berbeda dengan energi nuklir, karena berbahan bakar radioaktif, ketersediaan energi dapat dijamin dengan mudah dan umumnya pada skala besar.

Waktu

Dihadapkan dengan tujuan pengurangan emisi yang cepat, pembangunan pembangkit berbasis nuklir tidak akan bisa secepat pembangkit berbasis energi terbarukan. Pembangunan pembangkit berbasis nuklir selalu membutuhkan waktu yang lama dan biasanya tertunda. Dengan kondisi saat ini, waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan satu pembangkit nuklir adalah 77 bulan, terlepas dari waktu yang diperlukan untuk studi kelayakan dan pembebasan lahan. Dibandingkan dengan pembangkit biasa, pembangkit berbasis energi terbarukan non-hidro relatif cepat tersedia karena skala yang relatif kecil dan biasanya parsial.

Infrastruktur listrik

Seperti telah disebut di awal bagian ini, terpusat dan tersebar adalah kata kunci yang membedakan nuklir dan energi terbarukan. Hal ini tentu saja berhubungan dengan infrastruktur listrik, seperti transmisi, yang harus disediakan untuk menunjang pembangunan pembangkit energi-energi tersebut. Pilihan yang harus disiapkan adalah pembangunan transmisi besar, atau menyiapkan infrastruktur untuk pembangkitan terdistribusi?

Di sisi lain, kebijakan menyangkut bisnis listrik juga harus disiapkan. Pada pembangkitan berbasis energi terbarukan berarti harus membuka jalan untuk pembelian daya dari arah konsumen, artinya sekarang konsumen boleh menjual kelebihan energi yang dimilikinya dari investasi pembangkit energi terbarukan yang dilakukannya. Berbeda dengan pembangkitan berbasis nuklir yang besar dan terpusat dimana model bisnis listrik tradisional, dimana konsumen hanya boleh membeli, masih bisa digunakan.

Penutup

Pada artikel ini telah dipaparkan hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum pengambilan kebijakan diputuskan tentang pembangkitan energi rendah emisi. Dari sisi biaya dan waktu, energi nuklir tidak memiliki potensi yang baik daripada energi terbarukan, namun dari sisi jaminan ketersediaan dan kuantitas, energi nuklir jelas memiliki keunggulan dibandingkan dengan energi terbarukan. Baik nuklir ataupun energi terbarukan, kebijakan yang diambil harus berorientasi jangka panjang. Tanpa visi jangka panjang mustahil pembangunan sektor energi bisa berjalan lancar. Faktor lingkungan dan biaya sosial sengaja tidak dimasukkan dalam pembahasan kali ini.

Referensi

  1. A. Froggat, M. Schneider, Systems for Change: Nuclear Power vs. Energy Efficiency + Renewables?, Henrich Boll Foundation, 2010
  2. International Energy Outlook 2010, U.S. Energy Information Administration
  3. Global Investment Trends in Green Energy Unveiled In Recent Reports (2010), http://www.renewablepowernews.com
  4. 2010 Key World Energy Statistic, International Energy Agency
  5. Basic Cost Of Wind Energy Investment, http://www.renewable-energy-sources.com
  6. H. Outhred, S. Bull, S. Kelly, Meeting the Challenges of Integrating Renewable Energy into Competitive Electricity Industries, http://www.reilproject.org
  7. Gambar sampul diambil dari http://www.zedge.net

 

About angin165

Pria, Indonesia, muda, lajang, belum mapan.
This entry was posted in PLTN, Power Generation, Wind Energy. Bookmark the permalink.

8 Responses to Pilih Mana: Energi Nuklir atau Energi Terbarukan?

  1. Pingback: Pilih mana: Energi Nuklir atau Energi Terbarukan? « nang windar and the angin165

  2. Basuki says:

    Kalo tinjuaannya keamanan dan biaya yg sedikit lebih murah tentu lebih baik memilih energi terbarukan, apalagi klo kapasitan yang lebih kecil. Namun untuk skala yang besar misal 1 unit pembangkit dibangun dengan kapasitas 1 TWH atau lebih, tentu nuklir adalah solusi.

  3. Pingback: Pilih Mana: Energi Nuklir atau Energi Terbarukan? « Another Satria's Project

  4. Pingback: Pilih Mana: Energi Nuklir atau Energi Terbarukan? | Another Satria's Project

  5. eng says:

    energi yang ramah lingkungan

  6. abdillah says:

    Saya pilih energi TERBARUKAN…lebih ramah lingkungan…

  7. skala kecil energi terbarukan tetapi skala besar kalau bisa lebih murah maka lebih baik juga energi terbarukan karena memang lebih aman, kendalanya energi terbarukan skala besar sepertinya dalam masalah biaya

  8. Pingback: Harga Foundation Kelly - Cari Kosmetik Murah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s