Listrik dan Kepekaan Publik

Listrik dan Kepekaan Publik
Arwindra Rizqiawan

Listrik di era modern ini menentukan perkembangan suatu masyarakat karena tanpa listrik hampir tidak ada yang bisa dilakukan saat ini. Apabila masih terdapat masyarakat yang belum memperoleh listrik dengan layak tentu saja kemajuan masyarakat itu akan tertinggal dibandingkan yang sudah mendapatkan listrik. Semua ingin memanfaatkan listrik untuk sesuatu yang mendorong ke arah kehidupan yang lebih baik. Sekarang bagaimana jika semua ingin memakai ketika persediaan listrik yang ada terbatas? Apakah masih ada kepekaan publik untuk saling berbagi listrik?

Kepekaan publik

Gempa sebesar 9.0 pada Skala Richter, disusul tsunami, yang menghantam bagian timur laut Jepang pada 11 Maret 2011 membuat 11 dari sekitar 50 pembangkit listrik milik Tokyo Electric Power Co. (TEPCO) harus dipadamkan. Proses restorasi yang dilakukan TEPCO berhasil memulihkan sebagian besar pembangkit yang padam, namun tidak untuk PLTN Fukushima. Dua PLTN Fukushima (Dai-ichi dan Dai-ni) harus dimatikan akibat bencana ini, dan seperti yang sudah dijelaskan detil di Blog Konversi ITB ini, PLTN Fukushima Dai-ichi sekarang sedang rawan radiasi nuklir akibat bencana ini. Fukushima Dai-ichi memiliki total kapasitas terpasang sebesar 4.7 GW pada 6 unitnya, sedangkan Fukushima Dai-ni memiliki total kapasitas terpasang sebesar 4.4 GW pada 4 unitnya. Sebagai gambaran kasar, total kapasitas 2 PLTN ini saja sudah sekitar setengah beban puncak harian rata-rata listrik Jawa-bali. Jelas, kehilangan 2 pembangkit ini mengurangi pasokan dari TEPCO secara signifikan, akibatnya adalah TEPCO memberlakukan pemadaman bergilir untuk daerah-daerah di pinggir daerah Tokyo raya. Pusat Tokyo sengaja dilindungi dari pemadaman bergilir karena banyak pusat bisnis dan pusat aktifitas.

Listrik padam, adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat Jepang. Bahkan pemadaman bergilir di tahun 2011 ini adalah kali pertama dilakukan sepanjang sejarah TEPCO berdiri hampir setengah abad. Ketika pemadaman bergilir sudah tidak bisa dihindari lagi, pemerintah dan TEPCO menghimbau masyarakat untuk mau menghemat listrik supaya permintaan beban bisa tercukupi.

Dan hasilnya, beberapa kali jadwal pemadaman bergilir dibatalkan oleh TEPCO karena beban penggunaan yang menurun.

Semua gedung perkantoran, pusat belanja, kampus, bahkan rumah tangga serentak mengurangi pemakaian listriknya. Tidak heran jika sekarang ini hampir semua eskalator dimatikan, unit lift yang beroperasi dikurangi jumlahnya, lampu koridor dipadamkan, lampu hias sudah pasti tidak akan dinyalakan. Bisa dibayangkan negara padat teknologi seperti Jepang, masyarakatnya mau mengurangi pemakaian teknologi yang menyedot energi. Saya rasa motivasi terbesarnya bukan masalah berapa Yen yang bisa dihemat, namun justru lebih pada kepekaan publik, bahwa memang terjadi darurat listrik sehingga bagaimana supaya semua tetap bisa mendapatkan listrik seperti yang diinginkan pemerintah?

Sebagai ilustrasi, pada Gambar 1 kapasitas maksimal tersedia pada 28 Maret 2011 ditunjukkan oleh garis hitam. Kapasitas ini jauh di bawah permintaan beban pada hari yang sama tahun 2010 ditunjukkan oleh garis biru, terdapat penurunan pasokan listrik lebih kurang 10 GW. Garis merah jambu menunjukkan beban pemakaian puncak pada 27 Maret 2011. Diagram balok berwarna biru muda menunjukkan pemakaian actual pada 28 Maret 2011 (tanpa ada upaya pemadaman). Setelah jam 7 pagi, apabila pemakaian tidak berubah dari tahun kemarin, seharusnya TEPCO tidak akan bisa memenuhinya karena sudah melebihi pasokan yang tersedia. Tetapi bisa kita lihat pemakain beban pada pukul 8 bisa jauh lebih kecil daripada pemakaian beban pada jam yang sama setahun kemarin. Hal ini tentu didapat dari upaya penghematan besar-besaran. Pemadaman bergilir baru dilakukan pada pukul 9-13 untuk menjaga beban tetap berada di bawah kapasitas maksimal tersedia.

Gambar 1. Kurva beban harian TEPCO 28 Maret 2011. [tepco.co.jp]

Bagaimana dengan Indonesia?

Kondisi listrik di Indonesia memang tidak bisa disamakan dengan Jepang. Di Indonesia baru Jawa-Bali yang terhubung melalui interkoneksi, sedangkan di Jepang sudah seluruhnya terhubung melalui interkoneksi. Di luar sistem Jawa-Bali tidak ada interkoneksi, artinya masih banyak listrik yang dibangkitkan dengan menggunakan PLTD/PLTG lokal untuk melayani konsumen di sekitar pembangkit itu saja. Apabila suplai listrik dari pembangkit-pembangkit kecil tersebut tidak mencukupi, artinya akan ada konsumen yang tidak mendapat aliran listrik di daerah itu. Hal ini umum terjadi di luar pulau Jawa dan Bali. Pemadaman bergilir di Indonesia bukan terjadi karena darurat seperti di Jepang, tetapi lebih karena “keterpaksaan” penyedia layanan akibat persediaan yang tidak mencukupi permintaan konsumen.

Penulis yakin selama tarif dasar listrik masih disubsidi oleh negara, maka masyarakat Indonesia masih akan mampu membayarnya berapapun banyaknya pemakaiannya. Selama motivasi penghematan listrik masih berdasar Berapa banyak rupiah yang bisa kita hemat?, penulis rasa akan sulit mengharapkan ada penghematan listrik di Indonesia. Tidak akan ada perbedaan signifikan dari tagihan listrik yang kita bayar dengan atau tanpa saya berupaya menghemat listrik di rumah kita. Beda apabila listrik sudah bukan lagi barang bersubsidi, tapi kita tidak akan berharap itu akan ada dalam waktu dekat.

Alangkah baiknya apabila masyarakat Indonesia bisa melakukan penghematan listrik karena kepekaan publik, bukan lagi karena selisih rupiah. Apabila setiap orang bisa sedikit menghemat pemakaiannya maka akan ada orang lain di Indonesia yang bisa mendapat pasokan listrik dari selisih penghematan listrik itu. Proses menuju kesana tentu tidak mudah karena ini menyangkut masalah budaya, tapi mungkin bisa dicoba hingga rasio elektrifikasi negara Indonesia bisa mencapai 100%, suatu saat nanti.

About angin165

Pria, Indonesia, muda, lajang, belum mapan.
This entry was posted in Green Energy, Miscellanous. Bookmark the permalink.

7 Responses to Listrik dan Kepekaan Publik

  1. Pingback: Listrik dan Kepekaan Publik « nang windar and the angin165

  2. coxon3011 says:

    ijin share kak…🙂

  3. Mas, win, bener2 tersnentuh mas,
    saya malu sebenarnya mas, empati/kepekaan kita terhadap sesama seperti sangat kurang disini, padahal sebagian besar kita beragama islam disini, yang mana mengajarkan untuk mendahulukan saudara2 kita. Tp selama saya di pln yg saya liat, memang budayanya, “listrik2 saya, saya bisa bayar kok, kenapa musti hemat?”.

    Saya jadi teringat nasihat Pak Pekik, melakukan penghematan 1 watt itu jauh lebih untung dan mudah daripada membangkitkan 1 watt. 1 watt dipenghematan bisa jadi dibangkitkan dari beberapa watt yg hilang akibat losses selama pentransmisian dan pendistribusian.

    Mungkin karena selama ini kita “dimanjakan” dengan subsidi sehingga kita kehilangan rasa kepekaan itu mas..

  4. Kadek says:

    Setuju gk kawan2 kalo PLN bisa berbagi listrik dengan mendorong industri menggunakan pembangkitnya sendiri? Jadi caranya gampang berikan subsidi ke Industri itu sendiri,, jadi kalo industri make listrik PLN dan make generator diesel mandiri dengan selisih harga 700 per kWh, yaa PLN bayar 700-nya itu ke industri.. Kayaknya cara ini bagus diterapkan sementara waktu beban puncak jadi PLN gk perlu mengadakan pemadaman bergilir lagi.. 700 itu yaa tinggal didiskusikan antara PLN dan Pertamina..

    Gmana kawan?

    • angin165 says:

      setauku harga listrik bukan urusan pln dek, jadi agak ruwet deh urusannya karena menyangkut “pengambil” dan “penyetuju” keputusan.
      Kalau memang bisnis listrik bisa menguntungkan bagi swasta, mestinya IPP bisa banyak, tapi rasanya masih itu-itu aja IPP yang ada.

  5. dahono says:

    wah rupanya mulai pada mengerti pokok masalahnya

  6. seli_usel says:

    Mungkin karena selama ini kita “dimanjakan” dengan subsidi sehingga kita kehilangan rasa kepekaan itu mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s