Ayo Membangun Pembangkit Listrik di Indonesia

Ayo Membangun Pembangkit Listrik Di Indonesia

 Ardha Pradikta dan Kadek Fendy Sutrisna

“Berdasarkan laporan investigasi yang dirilis oleh Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2010, kelistrikan di Indonesia digambarkan sebagai salah satu infrastruktur yang kondisinya sangat mengkhawatirkan dan perlu segera mendapatkan perhatian serius” [1]

Mari kita coba bersama-sama untuk merenungkan pernyataan yang dirilis oleh ADB di atas! Bayangkan saja, apabila kapasitas listrik maksimum Indonesia saat ini sebesar 18.000 MW, dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 300 juta jiwa, maka setiap orang di Indonesia hanya bisa menikmati listrik sebesar 60 Watt saja, atau setara dengan 1 buah lampu pijar. Memprihatinkan bukan?

Berdasarkan fakta yang serupa, secara gamblang dinyatakan juga bahwa karakteristik kelistrikan di Indonesia ditandai oleh rasio elektrifikasi yang rendah dengan tingkat konsumsi dan effisiensi terendah di ASEAN setelah Kamboja dan Laos.

Dan apabila rata-rata pertumbuhan konsumsi listrik Indonesia bertahan pada angka 2,3-2,5% seperti pada saat ini, maka pada tahun 2030 nanti diperkirakan kebutuhan konsumsi listrik di Indonesia akan mencapai angka 16.000 TWh. [2]

Peningkatan investasi pada pembangunan pembangkit listrik perlu dilakukan untuk menghindari krisis listrik di tahun-tahun yang akan datang. Pada artikel ini akan dibahas tentang karakteristik pembangkit listrik primer yang dapat dikembangkan di Indonesia. Definisi pembangkit primer yang dimaksud adalah pembangkit berskala besar yang menggunakan sumber energi primer dengan tingkat energi yang besar, seperti bahan bakar minyak bumi, gas alam, batubara, geothermal, atau nuklir.

Banyak yang menilai bahwa sistem distributed generation atau islanded microgrid dengan menggunakan energi terbarukan adalah investasi yang paling tepat diterapkan di Indonesia, mengingat struktur geografisnya yang berupa kepulauan. Namun perlu juga diingat, bahwa penyediaan listrik pun diperlukan untuk menunjang pertumbuhan di area perkotaan dan kawasan industri. Sehingga pengembangan pembangkit listrik primer berkapasitas besar (ratusan megawatt) pun tidak boleh dipandang sebelah mata, meskipun diperlukan waktu untuk pengembangannya.

PEMBANGKIT LISTRIK BERBAHAN BAKAR MIGAS

Penggunaan bahan bakar migas bukan lagi merupakan alternatif yang menjanjikan. Pasalnya, selain cadangannya yang sudah semakin menipis, kebijakan pemerintah pada penggunaan migas sebagai pasokan energi nasional pun semakin dikurangi, mengingat nilai ekonomisnya yang sangat tinggi sebagai komoditas eksport. Sehingga dengan kata lain, upaya yang dilakukan pemerintah dan investor saat ini adalah berusaha mengurangi pemakaian pembangkit listrik jenis ini dan menggantinya dengan pilihan energi primer lainnya seperti pembangkit listrik berbahan bakar batubara, tenaga nuklir, dan tenaga panas bumi.

PEMBANGKIT LISTRIK BERBAHAN BAKAR BATUBARA

Pada umumnya lebih dikenal dengan nama Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), meskipun sebenarnya tidak selalu PLTU adalah pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Teknologi PLTU berbahan bakar batubara tergolong dalam teknologi yang sudah sangat mapan, sehingga keandalannya pun tidak perlu diragukan lagi. Di kelas pembangkit primer, biaya produksinya pun dinilai sebagai yang paling murah saat ini. Ditambah lagi dengan cadangan batubara yang melimpah di Indonesia, membuat PLTU Batubara menjadi primadona dari semua pembangkit primer di Indonesia.

Salah satu metode untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi pencemaran lingkungan pada PLTU batubara adalah dengan menggunakan metode gasifikasi batubara. PLTU batubara dengan teknologi gasifikasi diperkirakan mampu mengeluarkan 99 % lebih sedikit sulfur dioksida (SO2) dan abu terbang, serta 90 % lebih sedikit nitrogen oksida (NOx). Selain itu, teknologi ini juga diperkirakan dapat menurunkan emisi gas karbon (CO2) hingga 35 – 40 %, menurunkan buangan padat 40 – 50 % serta mampu menghasilkan efisiensi 10 – 20 % lebih besar.

Teknologi gasifikasi yang digabungkan dengan teknologi turbin gas dan HRSG (Heat Recovery Steam Generator) akan memegang peranan utama pada pusat-pusat pembangkit gasifikasi terpadu dengan tingkat efisiensi dan keandalan yang tinggi serta tentu saja lebih ramah lingkungan.

Disamping itu di masa kini, terdapat juga teknologi yang mampu menyerap gas CO2, yang dapat diaplikasikan pada PLTU dan pembuangan gas hasil proses industri. Teknologi ini lebih dikenal dengan sebutan CCS (Carbon Capture Storage).[3]

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR

Perkembangan terpesat PLTN kini terjadi di negara-negara berkembang seperti RRC dan India. Sementara negara terbanyak yang menggunakan PLTN hingga saat ini adalah Amerika, sebanyak 104 reaktor yang telah beroperasi, 20% dari total energi listrik yang dihasilkan untuk kebutuhan nasionalnya.

Lantas, apabila ternyata banyak negara telah menggunakan PLTN, benarkah Indonesia memang tidak mampu untuk menggunakan teknologi yang satu ini? Kecelakaan Chernobyl, TMI, dan Fukushima memang berakibat fatal, namun juga memberikan kita pelajaran bagaimana cara penanggulangan bahaya nuklir dan pencegahan pencemaran radiasi kedepannya.

Perkembangan desain yang sangat signifikan pada generasi mutakhir dari PLTN adalah dengan menggunakan prinsip kehandalan berlapis untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terburuk. Dengan desain ini, kegagalan salah satu sistem tidak akan menyebabkan kegagalan sistem keselamatan secara total.

Ibarat naik pesawat terbang, moda transportasi yang satu ini memang memiliki resiko yang sangat besar, namun bukan berarti kita tidak membutuhkan teknologinya bukan? Suatu kecelakaan penerbangan tidak membuat kita menjadi trauma dalam menggunakan teknologinya. Bukankah dengan menggunakan sistem pengamanan yang memadai, kita tetap bisa tidur nyenyak selama perjalanan?

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (GEOTHERMAL)

Hambatan terbesar dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah biaya Investasi awal PLTP sangat tinggi. Satu kali pengeboran membutuhkan biaya kurang lebih sebesar 70 Milyar hingga mendapatkan lokasi reservoir yang cocok untuk digunakan sebagai PLTP. Dan meskipun pemboran telah dilakukan dan berhasil, bukan berarti satu sumur tersebut dapat langsung beroperasi. Sumur-sumur panas bumi tidak dapat langsung digunakan melainkan dikumpulkan hingga total debit uap panas bumi yang dibutuhkan untuk keperluan pembangkit terpenuhi. Ini menyebabkan tingkat pengembalian modal menjadi relatif lama.

Sehingga tidak perlu heran jika badan usaha yang mampu bermain di bidang ini hanya lah perusahaan-perusahaan besar dengan modal yang kuat. Untuk itu dukungan dari pemerintah sangat diperlukan apabila memang mau mengembangkan teknologi panas bumi di Indonesia.

Perlu diketahui bahwa cadangan panas bumi di Indonesia sangatlah besar, hingga mencapai 40% cadangan dunia. Berdasarkan data PT. Pertamina Geothermal Energy, disebutkan bahwa cadangan geothermal di Indonesia dapat menghasilkan hingga 27.000 MW, sementara yang telah termanfaatkan baru sekitar 1.198 MW saja. Bukannya tidak mungkin apabila pemanfaatan panas bumi dapat dilakukan secara maksimal, Indonesia kemudian akan mampu berdiri sebagai kiblat bagi pengembangan energi geothermal di seluruh dunia.

KESIMPULAN

Pemenuhan kebutuhan listrik di Indonesia merupakan hal yang mendesak harus segera dibenahi apabila Indonesia tidak mau mengalami krisis energi dalam beberapa tahun ke depan. Pembangunan pembangkit-pembangkit primer pun perlu mendapat perhatian apabila ingin tetap dapat menyokong kebutuhan listrik didaerah perkotaan dan industri yang notabene merupakan pusat-pusat pertumbuhan perekonomian Indonesia. Meski demikian, isu-isu non-teknis, seperti harga minyak dunia dan isu lingkungan dapat menyulitkan pembangunan pembangkit listrik dengan teknologi konvensional yang lazim kita gunakan (khususnya untuk pembangkit listrik tenaga minyak, gas, dan batu bara). Untuk itu penguasaan teknologi alternatif pembangkit listrik yang lebih mutakhir pun diperlukan untuk mendukung pembangunan pusat-pusat pembangkit listrik yang mumpuni.

PLTU dengan CCS, Nuklir dan Geothermal, merupakan teknologi kekinian yang perlu segera dikuasai oleh Indonesia untuk menjamin kestabilan energi nasional di masa yang akan datang. Tentu saja tantangan besar ini hanya akan dapat terwujud apabila kita mau memberikan dukungan 100% pada pemerintah untuk memprioritaskan pembangunan dan pengembangan pembangkit listrik di Indonesia.

Referensi

[1] ADB, ILO and IDB “Country Diagnostics Studies, Indonesia: Critical Development Constraints”, Mandaluyoung City, Philippines; Asian Development Banks, 2010.

[2] Blog Konversi ITB, Menghemat Energi dengan menggunakan Listrik, Pekik Argo Dahono

[3] Secondary Energy Infobook, National Education Energy Development (NEED)

About konversi

This blog is a blog made by the students of the Laboratory Of Electric Energy Conversion, ITB. This blog shall be the place for us to write our researches and projects. Feel free to read any of the contents of this.
This entry was posted in Green Energy. Bookmark the permalink.

14 Responses to Ayo Membangun Pembangkit Listrik di Indonesia

  1. lukman hakim says:

    sebenarnya munkin dapat yang kita manfaatkan dari alam untuk dimanfaat kan untuk bisa menjadi pembangkit listrik alternative tinggal kita mau mempelajarinya, saya mempunyai ide yaitu mengembangkan pembangkit listrik tenaga listrik dan itu ternyata sudah ada yang mengembangkannya tapi belum ada kelanjutannya. munkin kelemahan dari pembangkit ini adalah terletak pada dinamo putar yang menggunakan kenbel, tetapi sepertinya saya punya solusinya yaitu dengan ban karet agar beban dinamo berkurang dan dapat berputar secara bergantian. seperti yang saya lihat di youtube dapat saya ambil kesimpulan bah wa tenaga listrik yang dihasilkan 50% dari yang digunakan. ada yang berminat dengan teori saya

  2. Kadokura says:

    Ini mas Lukman seperti pake google translate ngasih penjelasannya.. ;p

  3. lukman hakim says:

    listrik adalah energi, dan dia mampu menggerakkan apapun, tapi bisakah kita mensiasati agar kekuatan listrik itu bisa menghasilkan listrik itu kembali atau membuat pembangkit listri tenaga listrik? saya mengamati sampai hari ini tapi belum da kesempatan untuk mencoba dan mengembangkannya, pembangkit listrik tenaga listrik munkin agak membingungkan dan munkin mustahil, tapi saya melihat di youtube ternyata diluar negeri ada yang telah menncobanya dan hasilnya sangangat bagus tapi sampai saat ini saya belum pernah mendengar diindonesia ada yang mengembangkan nya. saya mengamati bahwa dinamo listrik itu bisa digunakan untuk memutar generator hanya saja yang menjadi pertanyaan apakah listrik yang masuk lebih besar daripada yang dihasilkan?

    • angin165 says:

      mas lukman, energi listrik yang dihasilkan tidak akan pernah lebih besar dari yang masuk.

      • harly says:

        kalo menurut saya mungkin teknologi yang ada di indonesia saat ini belum mapu menciptakan temuan seperti itu,.
        saya juga sempat ber[pikiarn sepetti itu cuaman bersasarkan teorinya kayaknya tidak bisa untuk saat ini..

      • Jangan terlalu pesimis mas Harly.. Wong kita aja yang kuliah diluar selalu optimis kok sama Indonesia.. Kalo masih pesimis dengan tantangan yang ada di depan ngikut aja dulu membantu orang yang ada di depan, setidaknya bisa saling berkontribusi yang sedikit demi sedikit lama-lama bisa jadi bukit.. ^_^

  4. Dahono says:

    Kalau pengin tahu listrik untuk menghasilkan listrik yang MG (Motor Generator) set. Motor listrik berputar karena ada energi listrik yang masuk. Motor memutar generator untuk menghasilkan energi listrik. Tentu saja energi output selalu lebih rendah dari energi input. No magic you can do

    • lukman hakim says:

      menurut pendapat saya yang bodoh ini, mesin pemotong listrik membutuhkan daya 1000 watt, dan menghasilkan putaran hingga 1000 rpm, namun yang perlu untuk kita pelajari dan pahami kekuatan putaran dengan penambahan daya listrik dan kemampuan untuk memutar generator, munkin ini bisa dikembangkan

      • dahono says:

        semua yang ada di alam mengikuti hukum kekekalan energi yang erat hubungannya dengan hukum kekekalan materi. Kaitan antara energi dan materi inilah yang dirumuskan oleh Einstein. Walaupun Einstein baru merumuskan materi menjadi energi, belum ada yang merumuskan energi menjadi materi.

  5. herichang says:

    ada yg mau bantu informasih pembangunan tenaga listrik berbasis geothrmal
    thanks

  6. Heri Chang says:

    ada yg mau bantu informasi geothermal.thanks

  7. seli_usel says:

    mungkin karena terlalu besar. jadi tekanan listrik nya tidak terlalu besar.

  8. wahyu says:

    saya sedang mengembangkan/membuat satu prototype pembangkit tenaga angin, saya memerlukan perhitungan empirisnya,
    kalau ada yg bisa dan mau bantu, saya bersedia memberikan kompensasinya. Dgn kata lain sy mencari konsultan utk pembangkit listrik tenaga angin.
    apabila berminat hub saya via e-mail. wahyu.rind@yahoo.co.id
    terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s