Sistem Catu-Daya Cadangan

Sistem Catu-Daya Cadangan

Pekik Argo Dahono

Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung

Pendahuluan

Banyak industri dan bangunan komersial sangat bergantung pada keberadaan sumber daya listrik untuk menjalankan fungsinya. Bahkan beberapa fungsi yang berhubungan dengan keamanan dan proses sering sekali harus tetap berfungsi walaupun terjadi pemadaman pada sumber listrik utamanya. Untuk tujuan ini, banyak industri dan bangunan komersial memasang sistem catu-daya cadangan yang berupa UPS (Uninterruptible Power Supplies) dan genset untuk menjamin kontinyuitas operasinya.

Di banyak industri, terutama yang tidak terhubung ke jaringan listrik PLN, sistem catu-daya cadangan ini juga diperlukan untuk black-start (mulai menjalankan proses saat semuanya mengalami pemadaman). Artinya, UPS dan genset merupakan unit pertama yang dinyalakan sebelum pembangkit utama dinyalakan. Setiap UPS dan genset dirancang untuk berbagai kebutuhan dengan karakteristik yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, pengguna harus tahu karakteristik pembebanannya sebelum bisa memilih UPS dan genset yang sesuai dengan kebutuhannya.

Tulisan ini mencoba memberikan rekomendasi akan UPS dan genset yang sesuai dengan kebutuhan industri dan bangunan komersial. Berbagai konfigurasi sistem catu-daya cadangan akan dibahas dan dibandingkan. Diharapkan tulisan ini bisa membantu para pengguna untuk bisa memilih sistem catu-daya cadangan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

Catu-Daya Cadangan

Untuk meningkatkan keandalan sistem catu-daya, biasanya dikenal dua tingkat cadangan yang menjamin kontinyuitas sistem. Cadangan pertama yang harus bekerja cepat adalah UPS atau sistem catu-daya tak terputuskan. UPS harus bekerja cepat dan mampu memasok beban begitu sumber listrik utama mengalami gangguan atau pemadaman. Ada banyak jenis UPS telah dikembangkan dan digunakan, yaitu UPS jenis off-line, line interactive, dan double-conversion. Walaupun demikian, jenis yang paling banyak digunakan adalah jenis double-conversion. Disebut jenis double-conversion karena energi listrik dikonversikan dua kali (dari AC ke DC dan kembali dari DC ke AC) untuk melayani bebannya. Untuk memenuhi kebutuhan daya beban saat sumbernya mengalami pemadaman, digunakan penyimpan energi yang biasanya berupa batere. Selain menjamin kontinyuitas pelayanan saat terjadi pemadaman, UPS juga berfungsi untuk memperbaiki kwalitas tegangan yang dirasakan beban. Kriteria pemilihan UPS semacam ini biasanya meliputi kapasitas daya, keandalan, dan lamanya waktu back-up yang diperlukan. Besarnya daya dan waktu back-up akan langsung menentukan ukuran batere yang diperlukan. Jika waktu back-up yang dipersyaratkan sangat panjang, baterenya akan sangat besar dan mahal. Masalah ukuran terutama sangat penting jika kita bicara aplikasi offshore.

Cadangan kedua setelah UPS adalah genset. Genset umumnya menggunakan mesin diesel sebagai penggerak utama karena solar merupakan bahan bakar mesin yang kandungan energinya paling tinggi (sekitar 10 kWh per liter). Waktu otonomi suatu mesin diesel hanya ditentukan oleh kapasitas tangki bahan bakarnya. Jika dirancang dengan baik, catu-daya cadangan dengan mesin diesel bisa bekerja beban penuh selama beberapa hari. Yang paling penting untuk diperhatikan adalah urutan pembebanannya saat baru saja dinyalakan supaya tidak terjadi pembebanan lebih. Sering sekali orang melakukan oversizing supaya semua beban bisa masuk saat genset baru saja dinyalakan. Oversizing menyebabkan efisiensi genset sangat rendah dan memperpendek umur mesin diesel.

Di masa yang akan datang, banyak ahli memperkirakan bahwa peran genset bisa diganti dengan fuel cell. Fuel-cell merupakan pembangkit yang bersih dan tidak berisik. Permasalahannya tinggal bagaimana mendapatkan hidrogen yang murah dan aman.

Topologi UPS

Secara umum, ada empat komponen utama dari suatu UPS, yaitu (Lihat Gambar 1):

  1. Batere. Ini merupakan penyimpan energi listrik dalam bentuk energi kimia. Batere bekerja pada tegangan searah (DC). Ukuran batere ditentukan oleh kapasitas daya dan waktu back-up yang diperlukan.
  2. Penyearah atau charger mengkonversikan daya listrik dari bentuk bolak-balik (AC) menjadi searah (DC). Tugas dari penyearah atau charger adalah menjaga energi yang tersimpan di batere agar selalu dalam kondisi penuh dan juga untuk memasok kebutuhan daya inverter pada kondisi normal. Komponen utama dari penyearah adalah thyristor atau transistor (IGBT). Thyristor terutama dipakai untuk penyearah daya besar. Di masa yang akan datang, diperkirakan semua penyearah akan menggunakan IGBT sebagai komponen utama karena mempunyai efisiensi yang lebih tinggi dan tidak menghasilkan banyak harmonisa atau distorsi gelombang arus di sisi sumber.
  3. Inverter adalah alat untuk mengkonversikan daya listrik dari bentuk searah (DC) menjadi bolak-balik (AC). Komponen utama inverter adalah IGBT. Inverter dikendalikan dengan teknik modulasi lebar pulsa atau PWM (Pulse Width Modulation) agar dihasilkan gelombang tegangan keluaran yang bentuknya mendekati sinusoidal. Setiap saat, kebutuhan daya beban dipasok melalui inverter.
  4. Saklar bypass statik adalah saklar semikonduktor yang akan melindungi UPS saat terjadi gangguan atau saat terjadi pembebanan lebih.
Gambar 1. Skema UPS

Gambar 1. Skema UPS

Definisi dan spesifikasi UPS biasanya berdasarkan pada standard IEC 62040.

Secara umum, UPS bisa kita bagi atas UPS berbasis trafo dan UPS tanpa trafo. Lihat Gambar 2. Pada UPS berbasis trafo, tegangan AC sumber diturunkan terlebih dahulu sebelum disearahkan oleh penyearah thyristor. Di sini trafo diperlukan agar penyearah thyristor tidak terlalu besar menghasilkan harmonisa dan tidak terlalu rendah faktor-dayanya. Penyearah thyristor yang umum digunakan adalah penyearah tiga-fasa enam-pulsa dan 12-pulsa. Penyearah 12-pulsa umum digunakan untuk daya besar. Penyearah thyristor menghasilkan tegangan searah sekitar 120 V atau 240 V. Batere langsung tersambung ke busbar DC keluaran penyearah. Inverter selanjutnya akan mengkonversikan tegangan DC rendah ini menjadi tegangan bolak-balik (AC). Karena tegangan AC yang dihasilkan rendah, trafo diperlukan lagi untuk menaikkan tegangan keluaran inverter agar sesuai dengan kebutuhan bebannya. Adanya trafo ini menyebabkan ukuran UPS akan besar dan efisiensinya menurun.

Pada UPS tanpa trafo, tegangan sumber langsung disearahkan dengan menggunakan penyearah IGBT. Penyearah IGBT menghasilkan tegangan yang tinggi, sekitar 800 Vdc. Karena tegangannya tinggi, batere tidak bisa dihubungkan langsung ke sisi keluaran penyearah. Batere dihubungkan ke busbar DC melalui suatu konverter DC ke DC. Inverter akan mengkonversikan tegangan keluaran penyearah menjadi tegangan AC. Karena sumbernya adalah tegangan DC yang tinggi, di sisi keluaran inverter tidak lagi diperlukan trafo untuk mendapatkan tegangan yang diinginkan. Karena tidak lagi menggunakan trafo, ukuran UPS ini akan sangat kompak dan lebih efisien dibanding yang menggunakan trafo.

Gambar 2 (a). Skema UPS dengan trafo

Gambar 2 (a). Skema UPS dengan trafo

Gambar 2 (b). Skema UPS tanpa trafo

Gambar 2 (b). Skema UPS tanpa trafo

Konfigurasi UPS

UPS biasanya dipakai untuk memasok kebutuhan daya bagi peralatan-peralatan yang dianggap penting atau kritikal. Jadi tugas pertama adalah menentuan peralatan mana dalam suatu industri dianggap kritikal.

Dalam banyak industri, peralatan yang dianggap kritikal bisa saja DCS (Distributed Control System) dan sistem proteksi. Yang penting disini, kita harus bisa mendapatkan data karakteristik peralatan yang akan dipasok UPS. Selain kebutuhan daya, karakteristik starting dari peralatan yang dipasok UPS merupakan data yang penting. Pada keadaan mantap, daya yang ditarik oleh suatu pemutus tenaga atau CB (circuit breaker) bisa saja kurang dari 10 Watt. Tetapi arus inrush yang ditarik saat awal bekerja bisa mencapai 200 Watt. Jika kapasitas daya UPS kurang besar untuk menanggung arus inrush peralatan, mungkin saklar bypass statik akan terlalu sering bekerja. Akan tetapi jika UPS dirancang agar mampu memasok semua arus inrush, UPS akan sering bekerja dengan beban rendah sehingga efisiensinya sangat rendah. Apalagi jika oversizing ini dikombinasi dengan waktu back-up yang sangat panjang maka kita akan mendapatkan UPS yang sangat mahal, besar, dan tidak efisien.

Setelah ukuran UPS bisa ditentukan, tahapan berikutnya adalah menentukan ketersediaan (availability) yang diinginkan. Ketersediaan atau availability didefinsikan sebagai berikut

 Availability (A) = \frac{MTBF}{MTBF+MTTR}

yang mana MTBF (Mean Time Between Failures) adalah waktu atau umur rata-rata antar kegagalan dan MTTR (Mean Time To Repair) adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan perbaikan. MTBF dari komponen utama UPS adalah charger (100.000 jam), batere (120.000 jam), inverter (70.000 jam), dan saklar statis (500.000 jam). Jelas bahwa MTBF komponen utama UPS mempunyai nilai yang sangat tinggi dan biasanya orang menuntut MTBF yang sangat tinggi untuk meningkatkan ketersediaan. Yang sering dilupakan di sini adalah pengaruh MTTR pada ketersediaan. MTTR tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi tetapi jika dipengaruhi oleh strategi operasi dan pemeliharaan.

Batere mempunyai nilai MTBF yang sangat tinggi, yaitu 120.000 jam. Jika MTTR-nya adalah 6 jam maka kita dapatkan ketersediaan 99,995% (atau 26 menit gagal per tahun). Jika MTTR nilainya naik menjadi 48 jam maka ketersediaan akan menurun menjadi 99,960% (210 menit gagal per tahun). Dengan MTTR yang buruk (48 jam), kita harus menggunakan komponen yang MTBF-nya sangat-sangat tinggi, yaitu 960.000 jam, agar ketersediaannya kembali bernilai 99,995%. Jika kita bisa memperbaiki MTTR menjadi 2 jam, ketersediaan 99,995% bisa didapat dengan komponen yang MTBF-nya hanya 40.000 jam. MTTR yang rendah bisa didapat dengan menggunakan sistem modular, selalu menyediakan cadangan, dan mempersiapkan teknisi yang menguasai peralatan.

Meningkatkan keandalan dengan mengoperasikan beberapa UPS secara paralel tidak direkomendasikan karena berbagai alasan. Alasan yang utama adalah adanya single-point of failure, atau titik kegagalan yang bisa menggagalkan semuanya. Pada UPS yang diparalel, hubungsingkat pada busbar keluaran UPS bisa menggagalkan semua UPS. Untuk banyak penerapan, lebih direkomendasikan untuk menggunakan beberapa UPS yang terdistribusi. Dengan menggunakan cara ini, gangguan pada salah satu UPS tidak akan mengganggu UPS yang lain. Untuk beban yang sangat kritis, direkomendasikan untuk menggunakan sistem catu-daya dual cords. Pada server dual cords, satu cord terhubung ke UPS-A sedangkan cord kedua terhubung ke UPS-B. UPS-A dan UPS-B tidak bekerja paralel dan bekerja independen. Jika tidak tersedia sistem dual cords, maka bisa digunakan sistem static transfer switch atau saklar transfer statik. Jadi pada keadaan normal, beban kritis misal dipasok oleh UPS-A. JIka UPS-A mengalami gangguan maka secara otomatis akan dipindah ke UPS-B oleh saklar statik. Karena menggunakan saklar statik, proses perpindahan bisa terjadi dalam waktu hanya beberapa milidetik sehingga tidak mengganggu kinerja peralatan.

Yang juga sangat penting, tetapi sering dilupakan, adalah kemampuan UPS menghasilkan arus hubungsingkat. UPS statik mempunyai arus hubungsingkat yang tidak terlalu besar, maksimum hanya tiga kali arus beban penuh. Akibatnya, jika terjadi hubungsingkat di sisi beban, sistem proteksi akan bekerja lebih lamban dibanding jika dipasok langsung dari sumber. Lamanya sistem proteksi bekerja akan menyebabkan peralatan lain akan lebih lama merasakan kedip tegangan sehingga bisa mengganggu peralatan sensitif.

Faktor lain yang harus diperhatikan saat menggunakan UPS adalah harmonisa yang dihasilkan di sisi sumber. UPS berbasis trafo yang menggunakan thyristor sebagai komponen utama menarik arus sumber dengan bentuk nonsinusoidal (mengandung harmonisa) dan berfaktor-daya rendah. Kita harus yakin bahwa harmonisa yang dihasilkan oleh UPS tidak akan mengganggu kinerja peralatan sumber atau genset yang digunakan. Harmonisa bisa dikurangi dengan memilih UPS yang penyearahnya mempunyai jumlah pulsa tinggi (misal 12 pulsa). Akan tetapi jika sumbernya memang mampu menahan harmonisa, kita tidak perlu menggunakan jumlah pulsa tinggi karena hanya akan menaikkan biaya dan mengurangi efisiensi.

Walaupun batere bukanlah komponen yang keandalannya paling rendah, pemilihan batere yang tepat sangatlah penting. Ada dua jenis batere yang umum digunakan yaitu jenis NiCd (Nickel Cadmium) dan jenis VRLA (Valve Regulated Lead Acid). Jika penyimpanan energi yang lama diperlukan maka VRLA batere merupakan pilihan yang baik. Jika memerlukan batere dengan arus pembebanan (discharge) yang tinggi maka batere NiCd merupakan pilihan tepat.

Mengisi ulang batere mirip seperti mengisi air ke dalam gelas. Jika kita menuangkan air terlalu cepat maka airnya akan tumpah. Jadi pengisian ulang batere ada batas kecepatannya dan jika dilampoui akan merusak batere. Pengisian batere dilakukan dengan memberikan tegangan sedikit lebih tinggi dari tegangan batere. Ada tiga macam tegangan yang dikenal dalam proses pengisian batere:

  1. Floating. Tegangan yang diperlukan untuk mempertahankan isi batere agar selalu dalam kondisi penuh.
  2. Charging. Tegangan yang diperlukan untuk mengisi muatan batere dengan kecepatan tertentu.
  3. Boosting. Tegangan yang diperlukan untuk mengisi muatan batere secara cepat.

Jelas bahwa batere yang terlalu sering merasakan tegangan boosting akan cepat rusak.

Kinerja batere akan sangat ditentukan oleh temperatur ruangan. Umur batere akan menurun dengan naiknya temperatur. Usahakan temperatur ruangan batere selalu berada di bawah 25^{0}C.

Diesel Genset

Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa sumber daya cadangan kedua yang umum digunakan adalah diesel genset. Mesin ini dibuat dengan menggunakan ISO 8528 sebagai standard.

Mesin diesel tersedia dari daya beberapa kilowatt sampai ribuan kilowatt. Perlu diingat bahwa putaran mesin diesel umumnya semakin rendah dengan naiknya kapasitas daya. Alasan utamanya adalah dengan naiknya kapasitas daya maka semakin besar ukuran komponen berputarnya. Akan tetapi turunnya kecepatan menyebabkan rapat daya (daya per satuan volume) dari mesin diesel menurun. Perlu dicatat bahwa daya adalah perkalian antara momen (torque) dengan kecepatan. Besarnya momen ditentukan oleh kapasitas atau ukuran silinder. Jadi untuk ukuran silinder yang sama, kapasitas daya akan naik dengan naiknya kecepatan.

Putaran yang paling banyak dipakai adalah 1500 rpm untuk sistem 50 Hz dan 1800 rpm untuk sistem 60 Hz. Kecepatan ini tersedia untuk daya 100 kW sampai 2,5 MW. Jika daya yang lebih besar diperlukan, direkomendasikan untuk menggunakan beberapa mesin yang diparalel.

Untuk menaikkan rapat daya, mesin diesel biasanya dilengkapi dengan sistem turbo. Pada sistem turbo, udara panas keluaran mesin dipakai untuk memutar turbin yang memaksa lebih banyak udara bisa masuk ke silinder. Dengan semakin banyak udara bisa masuk ke silinder maka akan semakin banyak bahan bakar bisa dibakar sehingga kemampuan daya bisa meningkat. Untuk meningkatkan lagi udara yang bisa masuk, dipasanglah intercooler yang diletakkan di antara turbocharger dan silinder. Udara yang dingin mempunyai kerapatan yang lebih tinggi dibanding udara panas sehingga semakin banyak udara bisa masuk ke silinder.

Tetapi semua itu membawa konsekuensi. Turbo menyebabkan kemampuan mesin menahan beban mendadak akan menurun, terutama saat beban rendah. Intercooler memerlukan energi untuk bekerja (diambil dari keluaran mesin diesel itu sendiri).

Untuk memenuhi persyaratan emisi di banyak negara, perusahaan mesin diesel terus menyempurnakan disain mesinnya. Polutan utama dari keluaran mesin diesel adalah SOx dan NOx. Kunci utama untuk mengurangi SOx adalah dengan menggunakan bahan bakar berkwalitas tinggi (kandungan sulfurnya rendah). Untuk mengurangi NOx, diperlukan udara masuk ke silinder yang temperaturnya rendah. Ini akan menyebabkan energi yang diperlukan oleh intercooler bisa sangat besar. Pada mesin diesel 2000 kW, daya yang ditarik oleh intercooler bisa mencapai 300 kW. Oleh sebab itu, memahami dengan baik regulasi emisi yang berlaku akan sangat penting untuk menentukan disain intercooler yang sesuai. Ini penting karena mesin diesel biasanya hanya digunakan sebagai cadangan. Artinya, bisa saja mesin ini hanya bekerja beberapa kali dalam setahun.

Untuk memperbaiki sistem pembakaran, beberapa tahun terakhir ini diperkenalkan sistem injeksi bertekanan tinggi atau disebut common rail injection. Pada mesin diesel, campuran bahan bakar dan udara dikompres sehingga temperaturnya naik dan mencapai titik nyalanya. Kenaikan kompresi ini bisa mencapai rasio 20:1. Pada sistem diesel baru, setiap silinder mempunyai pompa injeksi sendiri-sendiri. Pompa-pompa tersebut dikendalikan langsung oleh crankshaft-nya sehingga lebih akurat. Dengan menggunakan tekanan yang sangat tinggi (sampai 1500 bar), bahan bakar bisa dikendalikan dengan sangat akurat sehingga pembakaran bisa terjadi sangat efisien. Pada saat ini, suatu mesin diesel biasanya mempunyai konsumsi bahan bakar 0,25 liter untuk setiap kWh energi yang dihasilkan. Artinya, satu genset 2000 kW akan memerlukan 500 liter bahan bakar setiap jamnya.

Menurut ISO 8528, dikenal empat pengenal (rating) daya mesin diesel:

  1. Continuous operation rating (COP). Mesin bisa dibebani secara kontinyu pada daya ini selama waktu yang tak terbatas.
  2. Prime power rating (PRP). Mesin bisa dibebani secara kontinyu pada beban berubah-ubah dengan PRP sebagai batas maksimum, dengan syarat nilai rata-rata daya selama 24 jam tidak lebih dari 70% nilai PRP.
  3. Limited Time Power (LTP): Mesin bisa dibebani sebesar nilai LTP dengan waktu maksimum 500 jam setiap tahunnya. Walaupun tidak diatur dalam standard, waktu 500 jam ini diasumsikan tidak terjadi dalam satu waktu.
  4. Emergency Supply Power (ESP): Mesin bisa dibebani dengan beban variabel dengan maksimum nilai ESP selama waktu maksimum 200 jam setiap tahunnya. Nilai rata-rata beban selama 24 jam tidak boleh lebih dari 70 % nilai ESP.

Tidak ada standard yang mengatur bagaimana mengkonversikan satu rating ke rating yang lain. Tetapi yang umum digunakan adalah memberikan koreksi 5-10% untuk COP ke PRP atau dari PRP ke LTP. Rating yang paling umum digunakan dalam sistem catu daya cadangan adalah PRP.

Setelah mementukan kapasitas daya yang diperlukan, tahap berikutnya adalah menentukan kwalitas daya yang ingin didapat. ISO membagi empat kelas genset sebagai berikut:

  1. G1: General purpose seperti halnya sistem penerangan.
  2. G2: Beban berubah seperti halnya pompa, fan, dan katrol.
  3. G3: Beban yang mensyaratkan gelombang, frekuensi, dan tegangan yang ketat saat memasok beban thyristor atau peralatan telekomunikasi.
  4. G4: Beban khusus seperti halnya data center atau pusat komputer.

Seperti halnya UPS, untuk memilih mesin diesel kita harus tahu lebih dahulu beban yang akan dipasok. Karakteristik beban dan urutan penyalaannya harus diketahui dengan baik.

Pada saat beban yang dipasok genset tiba-tiba naik, kecepatan mesin akan menurun. Governor selanjutnya akan mendeteksi penurunan kecepatan ini dan akan membuka gas untuk mengembalikan kecepatan. Karena adanya inersia barang yang berputar, proses kembalinya kecepatan ini memerlukan waktu. Semakin besar beban yang masuk secara mendadak maka makin besar pula penurunan kecepatan dan waktu pulih yang diperlukan.

Mungkin sering ditemui bahwa generator harus mampu menerima beban mendadak 100 persen. Ini jelas tidak mungkin. Mobil Formula I saja memerlukan waktu 6 detik untuk membuat kecepatannya naik mencapai 300 km/jam.

Jika penurunan frekuensi sesaat diijinkan sampai 10 persen, maka beban mendadak yang diijinkan hanya sekitar 40-50%. Teknologi baru yang dilengkapi common rail injection mungkin bisa menaikkan beban mendadak sampai 60%. Inipun sangat tergantung pada kwalitas bahan bakar dan temperatur lingkungan. Pada mesin turbo, yang paling masalah adalah beban mendadak pada saat mesin bekerja dengan beban rendah. Pada saat bebannya masih rendah, turbo tidak berputar pada kecepatan punuh sehingga udara yang bisa dipasok ke silinder tidak maksimum. Jika beban naik mendadak, perlu waktu bagi turbo untuk menaikkan kecepatan agar mampu kebutuhan udara yang diperlukan.

Banyak orang mencoba memenuhi perubahan beban besar dengan menggunakan mesin yang besar. Akan tetapi mesin yang besar selanjutnya akan sering bekerja dengan beban rendah sehingga mesin cepat rusak. Direkomendasikan untuk tidak mengoperasikan mesin diesel dengan beban kurang dari 30 % ratingnya.

Komponen kritis lain dari suatu mesin diesel adalah starter, terutama baterenya. Genset gagal start gara-gara batere sangat sering dijumpai oleh penulis. Keandalan sistem ini bisa ditingkatkan dengan menggunakan dua starter redundan dengan menggunakan dua batere yang terpisah. Beberapa pernerapan bahkan menggunakan starter cadangan berbasis pneumatic atau hidrolik. Satu-satunya cara untuk mengetahui kondisi genset adalah dengan mengujinya paling tidak sebulan sekali. Jika mungkin, selalu usahakan menguji genset pada kondisi berbeban. Jika mungkin, simulasikan kondisi aktual yang akan ditemui saat terjadi gangguan.

About angin165

Pria, Indonesia, muda, lajang, belum mapan.
This entry was posted in Application, Power Electronics, Power Generation. Bookmark the permalink.

One Response to Sistem Catu-Daya Cadangan

  1. Benny says:

    Bagus banget Pak penjelasannya.
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s